LombokPost - Doa bersama, diikuti siswa, guru, dan tenaga pendidik, mewarnai halaman SDN 19 Cakranegara.
Agenda ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa sekaligus penegasan sikap bahwa Mataram menolak kekerasan dalam aksi demonstrasi.
Doa bersama dipimpin Ahmad Munadi, guru Pendidikan Agama Islam. Para murid diajak duduk bersama, berdoa, dan merenung agar tumbuh dengan semangat cinta damai.
Kepala SDN 19 Cakranegara Sri Hartini menegaskan pentingnya menanamkan nilai antikekerasan sejak dini.
“Perbedaan pendapat boleh saja, tetapi jangan sampai berujung pada kekerasan. Doa untuk negeri ini juga bagian dari ikhtiar kami agar murid belajar menyalurkan aspirasi dengan cara damai,” ujar Sri.
Menurutnya, doa untuk negeri menjadi momentum membentuk karakter murid agar lebih bijak menghadapi dinamika sosial.
Pendidikan damai sejak dini sangat penting untuk menekan potensi konflik.
Karena itu, pesan Mataram menolak kekerasan terus digaungkan, termasuk di hadapan murid.
Suasana syahdu terlihat saat doa dipanjatkan. Selain memohon keselamatan bangsa, murid juga diajak memahami pentingnya menjaga persatuan.
“Doa untuk negeri adalah ikhtiar batiniah, sedangkan sikap menolak kekerasan adalah ikhtiar nyata yang harus kita tanamkan bersama,” pungkasnya. (*)
Editor : Prihadi Zoldic