LombokPost--Sebagai upaya konkret mendukung percepatan penurunan angka stunting, Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Mataram menggelar pelatihan dan pendampingan bagi kader Posyandu di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 20-21 Juni 2025, ini fokus pada perawatan payudara dan manajemen Air Susu Ibu (ASI) untuk ibu hamil trimester III.
Desa Taman Ayu yang masih menjadi lokus stunting dipilih sebagai sasaran program.
Meski terjadi penurunan kasus dari 105 di tahun 2022 menjadi 34 pada Agustus 2023, tantangan masih besar.
Salah satu akar masalahnya adalah rendahnya pemahaman para ibu mengenai manajemen ASI dan masih beredarnya mitos lokal, seperti anggapan kolostrum sebagai ASI basi yang harus dibuang.
“Berdasarkan studi awal, sebagian besar ibu hamil di trimester ketiga di sini tidak pernah melakukan perawatan payudara. Banyak juga yang mengira kolostrum itu ASI basi,” papar Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti, S.SiT., M.Keb., selaku Ketua Tim Pengabdian.
Untuk memutus mata rantai masalah tersebut, sebanyak 20 kader Posyandu dari delapan dusun dibekali ilmu dan keterampilan.
Materi yang diberikan meliputi teori dan praktik perawatan payudara, manajemen ASI, pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), serta edukasi tentang manfaat kolostrum.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang dilaksanakan secara bertahap selama enam bulan dengan melibatkan narasumber dari Puskesmas Gerung dan dukungan penuh pemerintah desa.
Metode pelatihan diawali dengan pre test, dilanjutkan dua sesi pelatihan intensif, dan diakhiri dengan post test.
Pascapelatihan, para kader memiliki tugas pendampingan langsung kepada ibu hamil, mempraktikkan perawatan payudara, serta memantau keberhasilan IMD dan pemberian ASI pascapersalinan.
“Kehadiran kader ini diharapkan dapat mengisi kekosongan peran tenaga kesehatan di tingkat desa. Mereka akan menjadi garda terdepan dalam edukasi kepada ibu hamil seputar ASI,” jelas salah satu tim pengabdi, Ati Sulianty.
Selain peningkatan kapasitas kader, program ini juga menghasilkan luaran berupa jurnal ilmiah, video dokumentasi, serta pengajuan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk video edukasinya.
Keberlanjutan program dijamin melalui pembentukan kelompok kader penyuluh mandiri di desa.
“Program ini bukan sekadar pelatihan satu kali, tetapi menciptakan sistem pendampingan berkelanjutan yang berbasis kader lokal. Ini sejalan dengan misi pembangunan kesehatan desa,” tegas Mutiara Rachmawati Suseno, anggota tim lainnya.
Dengan sinergi yang terjalin antara akademisi, pemerintah desa, puskesmas, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model intervensi berbasis komunitas yang efektif dalam menekan angka stunting di Lombok Barat.
Editor : Kimda Farida