LombokPost - SMPN 3 Mataram menilai perubahan perilaku remaja menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan saat ini.Di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial, SMPN 3 Mataram memperkuat pendidikan karakter sebagai fondasi utama pembentukan peserta didik agar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik.
Kepala SMPN 3 Mataram Suherman mengatakan, pendidikan karakter menjadi kunci dalam menyiapkan siswa agar mampu menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak dini agar siswa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, adaptif, dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan pendekatan pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman. Pola pengajaran lama dinilai tidak bisa diterapkan sepenuhnya pada generasi saat ini.
“Kita tidak bisa mendidik anak sekarang seperti zaman dulu. Dunia mereka sudah berbeda,” ujar Suherman.
Ia menjelaskan, remaja masa kini hidup berdampingan dengan teknologi, media sosial, dan gawai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Kondisi tersebut menuntut guru dan sekolah memahami dunia siswa, bukan sekadar menuntut kepatuhan.
“Sekolah harus hadir sebagai ruang aman yang membimbing. Kita (guru) yang harus masuk ke dunia anak-anak, bukan mereka yang dipaksa mengikuti kemauan guru,” tegas Suherman.
Karena itu, SMPN 3 Mataram memperkuat nilai pendidikan karakter sebagai identitas sekolah. Nilai akhlak mulia, sikap atraktif, keterampilan, dan kreativitas dijadikan dasar dalam setiap aktivitas pembelajaran.
Penerapan pendidikan karakter tidak hanya bersifat teoritis. Sekolah mengintegrasikan nilai karakter dalam seluruh kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas keseharian.
“Kami ingin pembelajaran menghasilkan perubahan sikap dan perilaku, bukan sekadar nilai di rapor,” ujar Suherman.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah pembelajaran berbasis proyek. Siswa diajak menghasilkan karya nyata seperti pembuatan batik dan kerajinan dari bahan daur ulang.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga berkarya. Dari situ tumbuh rasa bangga, tanggung jawab, dan kreativitas,” kata Suherman.
Melalui penguatan pendidikan karakter, Suherman berupaya membentuk remaja yang berakhlak, terampil, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Kami tidak hanya menyiapkan siswa untuk lulus sekolah, tetapi untuk hidup di masa depan,” tandas Suherman.
Editor : Prihadi Zoldic