LombokPost - Pembangunan International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) Unram di Lombok Timur resmi dimulai. Melalui prosesi groundbreaking ITSRC Unram, pemerintah pusat menegaskan riset tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.
Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie, Ph.D saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan ITSRC Unram di Lombok Timur dan Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan, Kamis (12/2).
Dalam sambutannya, Prof Stella menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mendorong riset rumput laut yang berdampak langsung pada kesejahteraan publik.
Ia mengapresiasi langkah cepat jajaran pimpinan daerah dan perguruan tinggi sejak kunjungan awalnya pada 18 Mei 2025 hingga dimulainya pembangunan fasilitas riset tersebut. “Mohon dilanjutkan kerja sama antara Kemendiktisaintek, pemerintah daerah, dan universitas-universitas di Lombok Timur untuk kebaikan masyarakat,” ujarnya di hadapan para pimpinan kampus, pejabat daerah, tokoh masyarakat, serta pembudidaya rumput laut.
Menurut Prof Stella, kementerian saat ini mengusung mantra “Diktisaintek Berdampak”, yakni memastikan seluruh program pendidikan tinggi dan riset menghasilkan manfaat nyata. Ia menilai pembangunan Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan serta pusat riset rumput laut internasional melalui ITSRC Unram akan memberi dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat pesisir.
Prof Stella juga menegaskan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kemajuan sains dan teknologi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menyebut pemisahan struktur kementerian yang kini fokus pada pendidikan tinggi dan riset sebagai langkah strategis memperkuat inovasi berbasis riset.
Dalam paparannya, Prof Stella menegaskan Indonesia merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pangsa pasar global. Sementara nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar dolar AS per tahun, dan diproyeksikan terus meningkat seiring berkembangnya hilirisasi menjadi produk bernilai tinggi.
“Jika Indonesia tidak melakukan riset dan hilirisasi, kita tidak akan mendapat bagian dari potensi ekonomi global yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah. Karena itu pusat riset ini penting agar kita bisa memproduksi rumput laut secara konsisten dan berskala besar untuk pasar dunia,” ujar Prof Stella.
Prof Stella menjelaskan, hilirisasi rumput laut kini berkembang pesat, mulai dari pupuk hayati, bioplastik, hingga bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan. Karena itu, keberadaan ITSRC Unram di Lombok Timur dinilai sebagai langkah strategis memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri rumput laut global.
Untuk memperkuat ekosistem riset, pemerintah juga menggandeng sektor industri melalui APINDO serta membangun jejaring kolaborasi internasional. Di antaranya kerja sama dengan University of California, Berkeley dan Beijing Genomics Institute (BGI) dalam pengembangan riset bioteknologi rumput laut.
BGI berkomitmen memberikan pendanaan riset serta dukungan peralatan genomik untuk tahap awal penelitian. Prof Stella menilai kolaborasi internasional menjadi penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global, terlebih bioteknologi kini menjadi salah satu bidang kunci kekuatan teknologi suatu negara.
Prof Stella menegaskan pembangunan ITSRC Unram bukan sekadar proyek seremonial, melainkan langkah strategis menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri rumput laut dunia. “Tujuan riset hanya satu, meningkatkan pengetahuan agar bisa meningkatkan perekonomian dan pendapatan masyarakat,” kata Prof Stella.
Wamendiktisaintek juga mengapresiasi kontribusi peneliti lokal yang telah dikenal dalam jaringan akademik global, yakni Eka Sunarwidhi Prasedya, S.Si., M.Sc., Ph.D, peneliti rumput laut sekaligus dosen Unram.
“Putra daerah bisa menjadi peneliti kelas dunia. Kita harus bangga,” tutur Prof Stella.
Ia berharap masyarakat ikut berpartisipasi menjaga keberlanjutan program, karena keberhasilan riset sangat bergantung pada dukungan komunitas pembudidaya. Prosesi peletakan batu pertama yang berlangsung malam hari disebutnya menjadi bukti antusiasme masyarakat.
Dengan dimulainya groundbreaking ITSRC Unram di Lombok Timur dan pembangunan Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan, Prof Stella optimistis kolaborasi lintas sektor akan melahirkan industri baru berbasis rumput laut. Sekaligus meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat pesisir Lombok Timur.
Editor : Marthadi