LombokPost - Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Mataram 2026 dipastikan tanpa double shift. Dinas Pendidikan Kota Mataram mulai mematangkan persiapan SPMB dengan menyesuaikan kuota rombongan belajar (rombel) berdasarkan jumlah ruang kelas yang tersedia.
Kepala Bidang Dikdas Dinas Pendidikan Kota Mataram Syarafudin menjelaskan, saat ini pihaknya memetakan kuota rombongan belajar di setiap sekolah.
Prinsip yang digunakan dalam SPMB adalah keseimbangan antara jumlah siswa yang keluar dan siswa yang masuk.
“Idealnya, berapa siswa yang lulus, itulah yang kita terima kembali melalui SPMB. Jadi jumlah siswa baru benar-benar sesuai dengan kapasitas ruang kelas,” ujar Syarafudin, Jumat lalu (13/3).
Untuk memastikan hal tersebut, Disdik Kota Mataram terus berkoordinasi dengan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTB. Tujuannya agar kuota rombel dalam SPMB tetap berada pada batas maksimal, namun tetap aman bagi kualitas pembelajaran.
Dalam satu rombel bisa diusulkan maksimal 45 siswa sebagai batas pengamanan. Namun jika jumlah yang terpenuhi hanya sekitar 40 siswa, hal itu tetap dianggap ideal dalam pelaksanaan SPMB Mataram.
“Kita batasi jangan sampai melebihi kapasitas rombel. Yang penting kualitas belajar tetap normal dan ruang kelas tidak terlalu padat,” jelas Syarafudin.
Kebijakan SPMB tanpa double shift ini juga berkaitan dengan penerapan kebijakan lima hari sekolah. Dengan aturan tersebut, sekolah tidak lagi diperbolehkan menerapkan sistem sekolah siang atau double shift. Artinya, penerimaan siswa baru dalam SPMB harus berbasis pada jumlah ruang kelas yang tercatat dalam data Dapodik.
Syarafudin mencontohkan salah satu sekolah yang sering mengalami lonjakan pendaftar, yakni SDN 6 Cakranegara. Pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah itu kerap menerima siswa melebihi kapasitas hingga harus menerapkan double shift.
“Sekarang tidak bisa lagi. Dengan kebijakan lima hari sekolah, SPMB harus menyesuaikan jumlah ruang kelas yang tersedia,” tegas Syarafudin.
Data daya tampung sekolah di wilayah Ampenan, Cakranegara hingga Sandubaya juga terus dikumpulkan. Hal ini dilakukan agar pelaksanaan SPMB mampu mendistribusikan siswa secara lebih merata dan tidak hanya menumpuk di sekolah pusat kota.
Di sejumlah wilayah pinggiran, tren pertumbuhan usia anak sekolah justru meningkat. Karena itu, penyesuaian kuota rombel dalam SPMB menjadi langkah penting untuk memastikan semua siswa mendapatkan akses pendidikan yang seimbang.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Syarafudin berharap SPMB tanpa double shift dapat berjalan transparan dan seluruh siswa baru dapat tertampung sesuai standar ruang kelas yang ditetapkan.
Editor : Marthadi