LombokPost- Literasi keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama pendidikan anak. Melalui program CLBK (Cinta Cipta Literasi Berbasis Keluarga), gerakan literasi keluarga di Kota Mataram terus diperkuat dengan menempatkan rumah sebagai pusat pembelajaran.
Literasi keluarga bukan sekadar membaca, tetapi menghadirkan kedekatan, komunikasi, dan cinta antara orang tua dan anak.
Suasana hangat terlihat di halaman Kantor Camat Ampenan, Senin (28/4).
Tawa anak-anak dan aktivitas permainan tradisional menjadi bukti bahwa literasi keluarga bisa tumbuh dari hal sederhana di rumah.
Program CLBK yang digagas Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTB ini menegaskan bahwa keberhasilan literasi keluarga dimulai dari keterlibatan orang tua.
Bunda PAUD Kota Mataram Hj Kinnastri Mohan Roliskana menegaskan, literasi keluarga adalah kunci membangun karakter anak sejak dini.
Menurutnya, orang tua memiliki peran utama dalam menumbuhkan rasa percaya diri dan kecintaan belajar anak.
Baca Juga: Mangrove NTB Kritis, Unram Terapkan Rehabilitasi Berbasis Sains
“Literasi keluarga itu bukan hanya membaca, tetapi bagaimana orang tua hadir, berbicara, dan membangun kedekatan dengan anak,” ujar Bunda Kikin, sapaan karibnya.
Program CLBK yang berjalan sejak 2021 kini berkembang menjadi gerakan bersama. Tidak hanya fokus pada membaca, tetapi juga memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.
Orang tua didorong meluangkan waktu minimal 30 menit setiap hari untuk membaca bersama anak.
“Dalam literasi keluarga, membacakan cerita bukan sekadar belajar, tetapi membangun ikatan dan rasa aman anak,” tambahnya.
Baca Juga: SMAN 2 Mataram Jadi Sekolah Inovatif Nasional, Rapor Pendidikan Jadi Kunci
Penguatan literasi keluarga juga dilakukan melalui integrasi program Enikki dan permainan tradisional.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan sosial, serta ekspresi anak secara menyeluruh.
“Kalau ingin anak siap menghadapi masa depan, maka perkuat dulu literasi keluarga di rumah,” ucapnya.
Plt Camat Ampenan Muzakir Walad menjelaskan, program CLBK awalnya diterapkan di lingkungan masyarakat pesisir, khususnya keluarga nelayan di Kelurahan Bintaro.
Baca Juga: Hardiknas 2026 Unram: Pendidikan Bermutu dan Inklusif Jadi Komitmen Bersama
“Literasi keluarga dimulai dari kebiasaan kecil, seperti membacakan cerita setiap hari. Dampaknya sangat besar terhadap perkembangan anak,” jelasnya.
Seiring waktu, literasi keluarga berkembang tidak hanya pada aspek membaca, tetapi juga numerasi, budaya, dan penguatan nilai keluarga.
Kepala BPMP NTB Katman menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak.
Ia menyebutkan, literasi keluarga menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi unggul.
Baca Juga: BNN Mataram Bentuk Saka Pramuka Anti Narkoba, Perkuat Pencegahan di Sekolah
“Kalau literasi keluarga kuat, maka pendidikan anak juga akan kuat,” tegasnya.
Staf Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Ma’ruf mengapresiasi langkah Kota Mataram. Menurutnya, penguatan literasi keluarga melalui CLBK merupakan praktik baik yang selaras dengan kebijakan nasional.
Di lokasi kegiatan, tampak orang tua membacakan buku kepada anak, sementara anak-anak lainnya bermain permainan tradisional.
Gambaran ini memperlihatkan bahwa literasi keluarga tumbuh dari perhatian dan kebersamaan.
Baca Juga: Unram Kukuhkan 6 Guru Besar, Dorong Hilirisasi Riset untuk Masyarakat
Ke depan BPMP NTB berharap gerakan literasi keluarga melalui CLBK terus meluas dan menjangkau lebih banyak keluarga. Sebab, masa depan anak sangat ditentukan oleh kekuatan literasi keluarga di rumah.
Editor : Kimda Farida