LombokPost- Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tanpa perundungan menjadi perhatian Pemerintah Kota Mataram pada hari pertama sekolah.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana meminta seluruh sekolah memastikan MPLS berlangsung aman, ramah, dan bebas perundungan.
Mohan menyampaikan pesan itu saat menjadi pembina upacara pembukaan MPLS di SMPN 3 Mataram, Senin (13/7). Di hadapan ratusan siswa baru, dia menegaskan MPLS tanpa perundungan harus menjadi komitmen sekolah, guru, senior, dan orang tua.
”Tadi sudah saya tekankan supaya tidak ada aktivitas bullying (perundungan). Saya minta para pendidik untuk bisa mengawasi itu karena tidak baik bagi mental anak-anak kita,” tegasnya.
Baca Juga: Job Fair ICCN NTB Diserbu 1.197 Pencari Kerja, Puluhan Perusahaan Buka Lowongan di UIN Mataram
Mohan menjelaskan, interaksi siswa baru dengan kakak kelas rawan memunculkan perundungan jika tidak diawasi dengan baik. Tidak sedikit anak meniru perilaku negatif tanpa memahami dampak psikologisnya.
Karena itu, Mohan meminta seluruh kepala sekolah dan guru aktif membangun budaya saling menghormati.
Langkah itu penting agar lingkungan pendidikan Kota Mataram bebas dari perundungan.
Selain pengawasan di sekolah, keterlibatan keluarga juga memiliki peran penting. Orang tua harus terus memberikan motivasi dan perhatian agar anak nyaman menjalani proses belajar.
Baca Juga: Lima SMA Negeri di Mataram Masih Sisakan Kuota, Dikpora NTB Minta Warga Tak Terpaku Sekolah Favorit
”Harus ada keluarga, tidak hanya ayah dan ibu, tetapi juga lingkungan terdekat yang terus memberikan motivasi agar mereka tumbuh dengan bahagia,” ujarnya.
Mohan berharap kebiasaan orang tua mendampingi anak pada hari pertama sekolah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Sinergi sekolah dan keluarga menjadi fondasi utama untuk membangun karakter dan menjaga kesehatan mental anak.
Kepala Perwakilan BKKBN NTB Lalu Makripuddin mengungkapkan, persoalan fatherless di NTB kini menjadi perhatian serius pemerintah.
Berdasarkan data BKKBN, sekitar 27 persen anak di NTB minim kehadiran sosok ayah dalam proses tumbuh kembang.
Baca Juga: Universitas Hamzanwadi Jalin Kolaborasi Akademik dengan Universiti Kebangsaan Malaysia
Untuk menjawab persoalan itu, BKKBN menggencarkan Gerakan Ayah Hadir melalui dua program utama.
Program itu meliputi Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR).
Menurut Makripuddin, anggapan bahwa mengasuh dan mengantar anak merupakan tugas ibu masih berkembang.
Sementara ayah dianggap hanya bertanggung jawab mencari nafkah.
”Kita harapkan dengan mengantar anak sekolah melalui GAMAS ada dialog dan curhat dari anak. Begitu juga saat mengambil rapor melalui GEMAR. Jangan sampai ayah hadir secara fisik, tetapi sibuk dengan telepon genggam masing-masing,” katanya.
Baca Juga: Disdik Mataram Usulkan TKA Jadi Syarat Utama SPMB SMP, Jalur Domisili Dievaluasi
Makripuddin menjelaskan, tingginya angka fatherless di NTB berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis anak.
Anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah cenderung memiliki rasa percaya diri rendah.
Mereka juga lebih mudah mengalami gangguan emosional dan menghadapi tantangan dalam perkembangan sosial.
Karena itu, Gerakan Ayah Hadir diharapkan mampu memperkuat ikatan emosional ayah dan anak.
Upaya itu bisa melalui aktivitas sederhana, seperti mengantar anak ke sekolah, mengambil rapor, dan meluangkan waktu untuk berdialog setiap hari.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post