LombokPost-Dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) Karyanik, S.T., M.T., bersama tim peneliti memperoleh paten atas inovasi “Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu.” Mesin ini dirancang untuk mempercepat proses pengolahan mengkudu sekaligus menjaga kebersihan dan kualitas sari buah.
Karyanik menjabat Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UMMAT. Inovasi itu menjadi bagian dari penelitiannya selama menempuh pendidikan Doktor Ilmu Pertanian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Tim inventor beranggotakan Karyanik, S.T., M.T.; Prof. Dr. Ir. Aniek Iriany, M.P.; Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P.; serta Ir. Iis Siti Aisyah, S.T., M.T., Ph.D., IPM.
Baca Juga: 288 Mahasiswa FKIP UMMAT Ikuti PLP dan KKN Pendidikan di Lombok Tengah
Selain menghasilkan mesin, tim mengkaji proses pengolahan buah mengkudu secara ilmiah. Kajian itu bertujuan menjaga kandungan zat aktif, nilai nutrisi, dan kualitas sari buah selama proses ekstraksi.
Tim mengembangkan mesin itu untuk mengatasi keterbatasan pengolahan tradisional. Cara tradisional membutuhkan waktu relatif lama, kurang efisien, dan belum sepenuhnya memenuhi standar higienitas.
Teknologi itu memungkinkan proses ekstraksi berjalan lebih cepat, bersih, dan efisien. Mesin juga menghasilkan sari buah dalam jumlah lebih optimal.
Mesin itu berpotensi mendukung pengembangan produk turunan mengkudu bernilai ekonomi lebih tinggi. Sari buah dengan kualitas terjaga dapat diolah menjadi produk pangan, minuman kesehatan, serta bahan baku industri.
Baca Juga: Rektor UMMAT Lantik Enam Pejabat Struktural, Dorong Inovasi dan Penguatan Internasionalisasi Kampus
Karyanik mengatakan, inovasi itu berawal dari keinginan menghadirkan teknologi tepat guna. Petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta industri pengolahan hasil pertanian dapat memanfaatkan teknologi itu.
“Selama ini, proses pengolahan buah mengkudu masih banyak dilakukan secara tradisional. Melalui mesin ini, kami berupaya menghadirkan proses ekstraksi yang lebih cepat, higienis, dan efisien, sekaligus tetap menjaga kandungan penting yang terdapat dalam buah mengkudu,” ungkapnya.
Ia berharap pengembangan teknologi itu tidak berhenti pada penelitian dan perlindungan paten. Tim ingin melanjutkannya melalui hilirisasi, produksi, serta pemanfaatan secara luas di tengah masyarakat.
“Potensi buah mengkudu sangat besar, terutama sebagai komoditas lokal yang memiliki nilai kesehatan dan ekonomi. Apabila didukung teknologi pengolahan yang tepat, mengkudu dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” tambahnya.
Selain mengajar dan menjabat Wakil Dekan II Fakultas Pertanian UMMAT, Karyanik aktif sebagai Sekretaris Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat. Akademisi kelahiran Mertak Tombok, Praya, Lombok Tengah, itu juga aktif dalam kegiatan riset dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Kepala Sentra Hak Kekayaan Intelektual Universitas Muhammadiyah Malang Nur Putri Hidayah, A.Md., S.H., M.H., mengatakan, perolehan paten membuktikan kualitas dan kebaruan sebuah hasil penelitian.
Baca Juga: Mahasiswa Internasional UMMAT Raih Bronze Medal ISF 2026
“Paten menunjukkan bahwa sebuah invensi memiliki unsur kebaruan, langkah inventif, dan potensi untuk diterapkan. Data pembanding yang digunakan dalam pemeriksaan paten bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari publikasi riset dan dokumen paten yang tersedia di berbagai negara,” jelasnya.
Menurut Nur Putri, paten bagi Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu menegaskan kebaruan teknologi itu. Mesin itu juga memiliki nilai kemanfaatan dan dapat dikembangkan lebih lanjut.
UMMAT mengapresiasi pencapaian itu karena sejalan dengan komitmen universitas memperkuat budaya riset, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian. Capaian itu juga menunjukkan kemampuan dosen UMMAT menghasilkan karya ilmiah bernilai akademik dan berpotensi memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Tim berharap Mesin Ekstraksi Sari Buah Mengkudu dapat memasuki tahap produksi dan komersialisasi. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat mendukung pengembangannya.
Baca Juga: Bawa Misi Kearifan Lokal dan Inovasi Pemberdayaan, UMMAT Lepas 985 Mahasiswa KKN Reguler Angkatan 40
Inovasi itu berpeluang memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Mesin itu juga berpotensi mendukung kesejahteraan petani dan pelaku usaha.
Editor : Akbar Sirinawa