LombokPost- Geopark Rinjani resmi menjadi lokasi pertama implementasi Geopark Education Model for School (GEMS) yang dikembangkan SEAMEO Biotrop. Program ini menjadikan Geopark Rinjani sebagai laboratorium hidup untuk mendukung pembelajaran berbasis biodiversitas, agrobiodiversitas, budaya lokal, serta pembangunan masyarakat berkelanjutan.
Pelaksanaan perdana GEMS dikemas melalui Regional Webinar and National Training bertajuk Geoparks as Living Laboratories: Integrating Biodiversity Education, Agrobiodiversity, and Sustainable Community Development in Southeast Asia yang berlangsung pada 28–31 Juli 2026 di kawasan Geopark Rinjani.
Regional webinar yang digelar Selasa (28/7) diikuti lebih dari 100 peserta dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Mereka berasal dari kalangan pendidik, akademisi, mahasiswa, pengelola geopark, hingga berbagai institusi pendidikan yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.
Baca Juga: Unram Perkuat Kompetensi Guru di Malaysia, Dari Kearifan Lokal Menuju Kelas Digital
Rangkaian kegiatan berlanjut dengan pelatihan nasional pada 29–31 Juli yang melibatkan guru dan peserta dari berbagai sekolah di kawasan Rinjani. Fokus utamanya adalah memperkuat kapasitas pendidik dalam mengembangkan pembelajaran berbasis potensi lokal.
Direktur SEAMEO Biotrop Edi Santosa mengatakan, pelaksanaan GEMS menjadi tonggak baru dalam menghubungkan sekolah dengan kekayaan biodiversitas, agrobiodiversitas, geodiversitas, budaya, serta pengetahuan lokal yang dimiliki setiap kawasan geopark.
Menurutnya, Geopark Rinjani dipilih sebagai lokasi pertama karena memiliki bentang alam yang lengkap, mulai dari keragaman hayati, sistem pertanian, budaya masyarakat hingga nilai geologi yang saling terhubung.
Baca Juga: Borong Enam Medali, Tiga Mahasiswa Fakultas Hukum UMMAT Taklukkan Jogja Essay Competition
"Melalui GEMS, siswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui observasi lapangan, praktik, dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Dengan begitu, Geopark Rinjani benar-benar menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan pendidikan, ilmu pengetahuan, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan," ujarnya.
Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) NTB Wirman mengapresiasi inisiatif SEAMEO Biotrop yang menghadirkan pendekatan baru dalam dunia pendidikan. Menurutnya, GEMS sejalan dengan kebijakan pendidikan nasional yang mendorong pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
‘Program ini tidak hanya memperkuat kompetensi guru, tetapi juga membangun karakter peduli lingkungan pada peserta didik. Kami berharap hasil pelatihan dapat diimplementasikan di sekolah, terutama yang berada di sekitar Geopark Rinjani," katanya.
Baca Juga: Pemerhati Pendidikan Sigap Sebut Rakyat NTB Butuh Perda BOS, Bukan Perda Sumbangan Pendidikan
Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan berbagai materi praktik yang menghubungkan Geopark Rinjani dengan pembelajaran sekolah. Materi tersebut meliputi analisis vegetasi, identifikasi gulma dan spesies asing invasif, budidaya tanaman obat, hortikultura dataran tinggi, komoditas buah lokal, pemetaan sederhana berbasis GIS, observasi lapangan, hingga penyusunan rencana aksi implementasi GEMS.
Deputy Director for Program SEAMEO Biotrop Doni Yusri menjelaskan, GEMS dirancang agar kekayaan geopark tidak berhenti sebagai objek konservasi ataupun destinasi wisata.
“Melalui GEMS, kami ingin sekolah memandang geopark sebagai ruang belajar nyata. Siswa dapat belajar langsung dari bentang alam, biodiversitas, pertanian, budaya, dan kehidupan masyarakat. Pengalaman di Geopark Rinjani diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di geopark lain sesuai karakteristik masing-masing," jelasnya.
Kepala SMKPPN Mataram Sugiarta menilai pendekatan tersebut sangat relevan bagi pendidikan vokasi, terutama dalam menghubungkan kompetensi siswa dengan kondisi nyata di lapangan. Menurutnya, kekayaan agrobiodiversitas dan praktik pertanian masyarakat di kawasan Geopark Rinjani dapat memperkaya pembelajaran sekaligus meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
“Siswa tidak hanya belajar teknik budidaya dan produksi pertanian, tetapi juga memahami keterkaitan antara biodiversitas, lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala SMAN 1 Sembalun Johri. Ia mengatakan lingkungan Sembalun merupakan sumber belajar yang sangat kaya dan layak diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pelaksanaan GEMS mendorong guru dan siswa memanfaatkan potensi sekitar sekolah sebagai media belajar sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelestarian Geopark Rinjani.
Baca Juga: Jaksa Bumiputra Pembela Belanda : Amuk Sesela, Perlawanan Petani Lombok 1897
Sebagai tuan rumah pelatihan nasional, SMAN 1 Sembalun juga menjadi salah satu lokasi praktik lapangan yang mempertemukan peserta dari berbagai sekolah dan institusi pendidikan untuk saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan pembelajaran berbasis geopark.
Dukungan terhadap implementasi GEMS juga datang dari Kepala Cabang Dinas Dikpora Wilayah II NTB Supriadi. Ia menilai program tersebut membuka peluang bagi sekolah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan siswa melalui pemanfaatan kekayaan alam, biodiversitas, pertanian, budaya, dan masyarakat Lombok Timur.
“Guru diharapkan membawa pengalaman selama pelatihan ke sekolah masing-masing sehingga pembelajaran semakin kontekstual dan sesuai karakteristik wilayah," tuturnya.
Baca Juga: Kisah Dua Bersaudara Penyumbang Emas Kontingen Mataram di Porprov XII NTB 2026
Koordinator Program Dewi Suryani menjelaskan, kegiatan ini merupakan regional webinar dan national training pertama dalam program GEMS. Selama empat hari, peserta mengikuti pembelajaran di kelas, diskusi interaktif, praktik lapangan, hingga penyusunan rencana aksi implementasi yang dilaksanakan di Geopark Rinjani, SMKPPN Mataram, dan SMAN 1 Sembalun.
“Kami berharap pendekatan ini mampu menghasilkan model pembelajaran berbasis potensi lokal yang dapat diterapkan di sekolah maupun komunitas,” ucapnya.
Melalui implementasi perdana di Geopark Rinjani, Dewi menargetkan GEMS berkembang menjadi model pendidikan yang menghubungkan sekolah, geopark, dan masyarakat dalam membangun pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, serta berkelanjutan.
Baca Juga: 200 Koperasi Konvensional di Mataram Dipastikan Tetap Eksis
Ke depan, pengalaman dari Geopark Rinjani diharapkan menjadi acuan untuk mereplikasi GEMS di berbagai geopark lain di Indonesia maupun Asia Tenggara. Sehingga Geopark Rinjani semakin dikenal sebagai contoh geopark sebagai laboratorium hidup yang memperkuat pendidikan biodiversitas, konservasi lingkungan, dan pembangunan masyarakat berkelanjutan.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post