Yang menarik diam-diam Suhaili melakukan rotasi pada kepanitiaan. Posisi Ketua Panitia atau Organizing Committee (OC) diisi H Ahmad Fuaddi FT atau adik dari Suhaili. Fuaddi menggantikan posisi ketua panitia sebelumnya H Baiq Isvie Rupaeda.
Sementara Isvie digeser menjadi ketua pengarah atau Steering Committee (SC). Menggantikan ketua SC sebelumnya Abdul Khafid. Baik Fuaddi atau Isvie dinilai punya kedekatan cukup baik dengan Suhaili. “Kuasai personil lapangan juga akan mempermudah menguasai medan tempur,” kata pengamat Politik UIN Mataram Ihsan Hamid, Kamis (16/7).
Normatifnya kata Ihsan, panitia memang tidak punya hak memberikan suara. Tetapi menguasai SC dan OC mempermudah mengatur ritme siding pleno.
Pada akhirnya itu akan membuat situasi menguntungkan kandidat yang menguasai OC dan SC. “Baik itu ritme waktu, tata tertib, siapa yang hadir dan menerima undangan, dan lain sebagainya,” ulanya.
Menguasai acara akan mempermudah memainkan sekenario pemenangan. “Mempermudah jalannya,” ulasnya.
Belum lagi tempat yang disetting di Praya, Lombok Tengah (Loteng). Hal ini membuat situasi berbalik menguntungkan Suhaili, sekalipun Ahyar mendapat dukungan DPP. Ahyar mulai keteteran situasi tak menguntungkan Wali Kota Mataram itu merebut kursi Golkar NTB. “Pak Ahyar mulai terjepit,” ulasnya.
Bahkan Suhaili dinilai sudah mengeluarkan kartu trufnya ke hadapan Airlangga. Dibawanya Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Lombok Barat H Sumiatun dan Ketua DPD Bima Hj Indah Damayanti Putri lebih dari sekadar dukungan polik DPD pro Suhaili. “Ingat Bu Dinda (Indah Damayanti Putri, Red) itu Bupati Bima dan Bu Atun itu Wakil Bupati Lombok Barat,” ulasnya.
Kedua-duanya berposisi sebagai Kepala Daerah. Dengan posisi strategis itu ada banyak diplomasi dan negosiasi yang bisa dilakukan. Termasuk negosiasi investasi bisnis milik Airlangga. “Itu kartu truf-nya,” ujarnya.
Belum lagi posisi Suhaili yang saat ini menduduki kursi Bupati Loteng dengan KEK Mandalika di daerahnya. Atau tawaran-tawaran menarik di Lombok Timur dengan ikut sertanya Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Lombok Timur Daeng Paelori dalam pertemuan.
Semua itu menjadi jurus pamungkas sang petahana. “Walaupun kalau bicara prestasi pak Suhaili belum bisa disebut mentereng,” ulasnya.
Suhaili gagal mempertahankan kejayaan Golkar di Loteng. Saat mendapat mandat dari Golkar sebagai calon Gubernur, politisi Yayasan Attohiriyah Al Fadiliyah (Yatofa) Bodak itu pun gagal.
Tetapi dengan berbagai catatan kegagalan itu, Suhaili di atas kertas masih dianggap lebih baik dibanding Ahyar. “Kalau Pak Suhaili gagal, pak Ahyar sampai saat ini terlihat tidak mampu mengendalikan dominasi Suhaili,” ulasnya.
Secara hirarki prestasi ‘gagal’ dinilai lebih baik daripada ‘tidak mampu’. Tetapi situasi ini baru untuk saat ini masih mungkin berubah. “Kita belum tahu kejutan apa yang disiapkan Ahyar nanti,” ujarnya.
Bagi Ihsan, pertarungan Suhaili melawan Ahyar layaknya pertarungan hidup mati. “Hidup mati karir politik, menjadi calon gubernur setelah sama-sama pensiun dari kepala daerah,” ulasnya.
Situasi berbalik ini dinilai dapat membuat DPP dilematis. Kedua-duanya dinilai kader terbaik Golkar dengan kelebihan dan kekurangannya. “Secara politik dinilai sama-sama punya prestasi,” ulasnya.
Saat ini kedua tokoh dinilai paling layak dan tepat memimpin Golkar NTB. “Saya menduga, DPP memilih untuk tidak intervensi dan berposisi menerima paket dari hasil Musda,” ulasnya.
Suhaili dan Ahyar sama-sama mengklaim dapat restu dari DPP. Tetapi dengan jurus-jurus Suhaili saat ini posisinya berbalik di atas angin. “Memang tidak ada jaminan apa yang dilakukan Suhaili telah mengunci kursi ketua, karena saya yakin Ahyarpun pasti punya kartu turf,” ujarnya.
Belum diketahui apakah Ahyar telah mengeluarkan kartu trufnya atau belum. Tetapi yang berbahaya bagi Suahili bila kartu itu belum dikeluarkan. “Apalagi bila kartu itu dikeluarkan detik-detik jelang Musda, Suhaili bisa kalah langkah lagi,” ulasnya.
Apakah ada ruang muncul calon alternatif? “Bisa saja. Bila kedua-duanya sama-sama tangguh dan akhirnya sama-sama ambruk. Calon lain bisa muncul, Sari atau Isvie misalnya,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Musda H Ahmad Fiaddi membenarkan telah mengganti Isvie sebagai ketua. Hanya saja, mantan Ketua DPRD Loteng menegaskan tidak ada kepentingan politik di balik penggantian ketua pantia. “Saya pastikan saya akan bekerja secara profesional,” katanya.
Tugasnya memastikan jalannya Musda berjalan lancar dan tertib. Sesuai protokol Pandemi Covid-19. “Hasil koordinasi panitia dan pihak kepolisian kami hanya diberi waktu 2 Jam melaksanakan Musda,” ulasnya.
Sehingga besar kemungkinan pemilihan ketua DPD Partai Golkar NTB berakhir aklamasi. “Jumlah panitia juga dikurangi untuk kurangi kerumuman,” pungkasnya. (zad/r2) Editor : Administrator