Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NADI Diunggulkan, JODA Tetap Berpeluang Menang

Administrator • Jumat, 9 Oktober 2020 | 22:33 WIB
RESMI DIDUKUNG: Ketua DPD Gerindra NTB H Ridwan Hidayat (tengah) menyerahkan SK rekomendasi dukungan pada paslon Djoda Akbar di Kecamatan Gangga, Selasa (21/7) (Ferial/Lombok Post)
RESMI DIDUKUNG: Ketua DPD Gerindra NTB H Ridwan Hidayat (tengah) menyerahkan SK rekomendasi dukungan pada paslon Djoda Akbar di Kecamatan Gangga, Selasa (21/7) (Ferial/Lombok Post)
MATARAM-Peta pertarungan politik di Kabupaten Lombok Utara (KLU) diprediksi ketat dan penuh gengsi. “Dua sahabat kembali bertemu,” kata pengamat politik UIN Mataram Dr Kadri, kemarin (8/10).

Untuk kali kedua, H Najmul Akhyar dan H Djohan Sjamsu bertarung head to head, sejak pecah kongsi pada tahun 2015. “Saya belum melihat hasil survei, tetapi dari sisi mesin politik harusnya Najmul punya peluang lebih besar,” imbuhnya.

Ukurannya menurut Kadri adalah tahun 2015. Saat itu Djohan memegang mesin pemerintahan. “Kalau pada posisi pegang kekuasaan saja Djohan kalah, apalagi sekarang yang Najmul memegang itu,” paparnya.

Djohan butuh langkah politik luar biasa. Namun Najmul tak bisa jemawa menepuk dada. Salah satunya petahana harus mewaspadai partai politik di belakang Djohan.

Gerindra, PDIP, dan PKB yang mengusung Djohan merupakan partai pengusung Najmul di Pilbup 2015. Paling tidak tiga partai itu mengetahui ‘resep dapur’ Najmul memenangkan Pilbup 2015.

Begitu pun jeroan kelemahan dari Najmul. “Jadi Djohan tetap tidak bisa dianggap enteng,” imbuhnya.

Hal ini karena publik KLU kini bisa membandingkan kepemimpinan Najmul dengan Djohan. Berbeda dengan tahun 2015, kelemahan Najmul belum bisa diukur sekali pun posisinya saat itu sebagai wakil bupati.

Semua kelemahan kebijakan pemerintahan Djohan-Najmul, ditimpakan pada Djohan. Tetapi sekarang publik KLU punya bahan perbandingan antara kepemimpinan Djohan-Najmul. “Publik akan mulai membanding-bandingkan keduanya,” ulasnya.

Dari sisi prestasi pembangunan, Najmul berpeluang diuntungkan karena waktu. “Memori publik cendrung pendek, kecuali ada yang berkesan sekali dalam mengingat prestasi pemimpin lama,” kata Kadri.

Karena itu, pemerintahan Najmul cendrung membuat publik KLU condong memilihnya. Bahkan dukungan dari masyarakat yang sebenarnya kurang tersentuh dari sisi manfaat. “Ini sekali lagi karena ingatan publik cendrung pendek,” ulasnya.

Sementara tipikal pemilih yang mendasari pilihannya dari romantisme kepemimpinan, berpeluang ke Djohan. Mereka orang-orang yang saat ini terpinggirkan di pemerintahan Najmul, tetapi mendapat tempat menguntungkan ketika Djohan memimpin.

Dan yang terpenting kata Kadri, politik KLU masih ditentukan dukungan Ormas. “Kita tahu di tahun 2015 dukungan NW ke mana dan hasilnya secara efekif memenangkan Najmul,” terangnya.

Kini dukungan NW kembali berpeluang ke Najmul-Suardi. Dan ini harus diantisipasi secara serius oleh Djohan-Danny Karter Febrianto. “Sekalipun saya mendengar instruksi dari figur di lapangan berbeda, tetapi saya melihat Najmul lebih diterima dua NW (Pancor dan Anjani),” ulasnya.

Belum lagi posisi Najmul sebagai abituren NW. “Saya kira Najmul masih lebih diuntungkan,” terangnya.

 Lantas bagaimana dengan isu penanganan gempa? “Isu ini memang punya peluang merontokkan popularitas Najmul,” sebutnya.

Tetapi Najmul pasti sudah menyiapkan antisipasinya. Mengingat kecendrungan isu ini berpotensi membuat tingkat suka dan ketidaksukaan publik sangat dalam.

Bagi warga yang tertangani, kondisi rumahnya lebih bagus setelah direnovasi pemerintah daripada sebelum gempa, berpotensi jadi pembela Najmul. Tetapi bagi yang tidak tersentuh dan kecewa, cendurung mengkampanyekan agar Najmul tidak dipilih lagi. “Jadi kekecewaannya itu akan diarahkan mengajak warga lain tidak memilih Najmul,” pungkasnya.

 

JODA Optimis Warga NW Mendukung

Potensi ormas NW sebagai daya ungkit pemenangan Najmul-Suardi (NADI) tidak membuat tim pemenangan Djohan-Danny (JODA) silau. “Jadi alhamdulillah masyarkat KLU itu bisa membedakan antara politik praktis dengan Ormas,” kata Ketua Koalisi Pemenangan JODA Raden Nuna Abriadi, belum lama ini.

Menurut politisi PDIP itu, masyarakat KLU sudah dewasa -- termasuk warga NW -- melihat realitas politik. Tidak lagi terpolarisasi ke salah satu figur. “Di sisi lain, kami juga berangkulan dengan saudara NW,” imbuhnya.

Bahkan di paket JODA, lanjut Una, bergabung beberapa tokoh NW. Selain itu bergabung pula sejumlah ketua yayasan yang terafiliasi ke organisasi terbesar di NTB itu. “Di Kecamatan Kayangan ada pondok pesantren besar mendukung JODA,” ungkapnya.

NW Anjani pun diklaim sudah menyatakan sikap mendukung JODA. Tetapi kemudian Una mengatakan tumpuan kemenangan JODA bukan pada Ormas. “Tetapi pada rakyat,” tegasnya. (zad/r2 Editor : Administrator
#Djohan Sjamsu #Pilbup Lombok Utara #Najmul Akhyar