"Revitalisasi pasar tradisional yang disampaikan bu Selly dalam debat saya rasa realistis. Masalah pasar ini memang harus segera dibenahi," kata wiraswasta yang juga pemerhati lingkungan Syawaluddin.
Menurut Syawal, pasar bisa menjadi cermin utama perkotaan. Jika pasar tradisional di sebuah kota sudah bersih dan rapi, maka kota tersebut juga pasti terlihat bersih dan rapi.
Apalagi, tak bisa dipungkiri sebagian besar produksi sampah perkotaan ini bersumber dari aktivitas pasar. "Jadi memang kalau mau kota bersih, ya bereskan dulu pengelolaan pasar, penataannya hingga penanganan sampahnya," katanya.
Nur Rahmi, salah satu pedagang yang ditemui Selly di pasar tradisional juga menilai setuju dengan rencana revitalisasi pasar tradisional. Jika pasar ditata lebih rapi, maka minat dan animo masyarakat berbelanja ke pasar tradisional juga akan meningkat.
Saat ini kebanyakan yang berbelanja di pasar adalah masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sementara yang lebih mampu akan memilih ke pasar modern. "Saat pandemi seperti sekarang, daya beli masyarakat juga sepi, maka kita sebagai pedagang pun banyak kehilangan omzet," tuturnya.
Rahmi berharap dengan revitalisasi pasar, pasar tradisional yang terkesan kotor dan kumuh bisa berubah. Sehingga animo untuk berbelanja ke pasar juga bisa terus bertumbuh.
Sementara Hj Putu Selly Andayani menyampaikan pengelolaan terintergrasi beberapa sektor penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD) seperti, parkir, pasar, dan persampahan harus dilakukan. Pengelolaan terintegrasi bukan saja memaksimalkan realisasi PAD semata, tetapi juga memberi nilai tambah seperti aspek kebersihan, dan perputaran ekonomi masyarakat yang didukung sektor pariwisata nantinya.
"Revitalisasi pasar tradisional ini penting. Ke depan pasar kita harus bersih dan nyaman, dengan konsep pasar wisata," kata Selly, kemarin (17/11) di Mataram.
Ia memaparkan, kondisi saat ini di sejumlah daerah perkotaan pasar tradisional hampir ditinggalkan oleh masyarakatnya bila tidak benar-benar dijaga dan dipelihara dengan baik. Munculnya pasar-pasar modern atau swalayan mengancam keberlangsungan hidup pasar tradisional.
Di kota-kota besar khususnya, nilai sosial budaya pasar hampir punah karena orang cenderung memilih belanja di swalayan yang bersih dan tanpa menawar harga.
Untuk itu, dibutuhkan upaya yang kuat dari pemerintah dan masyarakat dalam upaya menghidupkan kembali semangat pasar tradisional di Kota Mataram. “Bukan hanya menggerakkan kembali semangat belanja di pasar. Lebih dari itu, mengintegrasikan pasar dan pariwisata bisa dilakukan agar wisatawan pun datang dan berbelanja ke pasar,” paparnya.
Untuk itu, pengelolaan parkir, pasar, dan persampahan industri akan dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Hal ini agar pengelolaannya lebih profesional. Beberapa Kota besar sudah melakukan ini dan berhasil, misalnya di Kota Bandung, Jabar dan juga Denpasar, Bali.
"Konsepnya pasar tradisional harus bersih dan rapi, sehingga orang nyaman datang. Pengelolaannya kita serahkan ke BUMD yang khusus mengelola Pasar, Parkir, dan Persampahan," tandasnya. (ton/r3/*)
Editor : Administrator