Sukiman pun mengungkapkan alasan sikap politiknya yang mencolok tersebut. “Ya, pak Anies ini adalah barang yang fenomenal, kita semua tahu. Beliau banyak pendukung banyak pengagum,” katanya terbuka pada Lombok Post.
Hal ini terlihat saat kunjungan Anies Baswedan belum lama ini ke NTB. Di mana-mana terlihat euforia dan semangat luar biasa dari tokoh hingga masyarakat menyambut kedatangan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. “Sambutannya luar biasa,” ujarnya.
Oleh karenanya, antusiasme tinggi itu mendorongnya untuk memfasilitasi kelompok atau aliansi yang berjuang secara khusus untuk pemenangan Anies Baswedan di NTB. Lebih-lebih secara pribadi ia menyebut juga sebagai pengagum Anies. “Itu potensi dan harus kita fasilitasi,” katanya.
Langkah yang dilakukannya antara lain dengan mendukung pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) Kolaborasi Lintas Simpul Relawan. Upaya ini kata Sukiman dalam rangka memastikan gerakan para relawan lebih terstruktur, tertata, dan termanajemen dengan baik. Sehingga menghasilkan dukungan politik yang besar bagi Anies pada Pemilu 2024.
“Makanya kita menghimpun kawan-kawan, rapat dalam satu barisan. Menghindari jeruk makan jeruk. Misalnya relawan A membina wilayah tertentu, kita dorong agar relawan B tidak masuk di wilayah tersebut tetapi memasuki wilayah lain, agar tidak tumpang tindih,” paparnya.
Dengan adanya penataan wilayah kerja, Sukiman yang juga Bupati dua periode itu berharap dampak elektoral bagi Anies optimal. Termasuk berkontribusi dalam memastikan 80 persen -- seperti hasil survei -- warga NTB, menjatuhkan pilihannya pada Anies. “Paling tidak pentolan dari relawan ini masing-masing harus ada di setiap kabupaten hingga kecamatan, sehingga keberadaan relawan yang banyak macamnya ini menjadi satu kekuatan yang dapat diandalkan pergerakannya,” harapnya.
Antara kerja relawan dengan partai dikatakan harus saling mengisi. Sukiman mengatakan ada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh partai politik yakni orang-orang yang memang tidak suka partai politik. “Ada orang yang suka pak Anies-nya, tapi tidak suka dengan partai politik, maka kita harapkan ruang inilah yang dikerjakan oleh relawan untuk merangkul mereka agar pada Pilpres 2024 mendukung Anies,” tekannya.
Pun dengan relawan bukan domainnya untuk mengusung calon presiden. Tetapi menjadi kewenangan partai politik dalam memberikan dukungan dan kendaraan politik untuk mencalonkan diri sebagai presiden. “Artinya apa, mari kita saling menghargai, kalaupun tidak bisa diakomodir (dalam satu gerakan politik) karena memang beda (antara relawan dan parpol) paling tidak mari kita saling menghargai, jangan saling memandang setengah mata,” harapnya.
Sementara itu, terkait jabatan negara yang melekat pada dirinya yakni sebagai Bupati, Sukiman mengklaim tidak pernah mencampuradukkan antara kepentingan politik pribadi dengan tugas-tugas kebupatian. Termasuk fasilitas negara yang melekat pada dirinya juga tidak pernah digunakan pada saat menghadiri kegiatan politik. “(Saat kunjungan Anies) saya pakai kendaraan pribadi dan itu atas kemauan saya sendiri, tidak ada (saya pakai fasilitas negara), tidak pernah juga (saya kerahkan ASN),” tegasnya.
Klarifikasi yang dilakukan Bawaslu pada dirinya juga tidak dipersoalkan. Menurutnya Bawaslu menjalankan tugas yang diamanatkan Undang-Undang dan dirinya juga telah mengikuti ketentuan sebagai kepala daerah. “Jadi tidak masalah (diklarifikasi),” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Forum Relawan Anies NTB Dr H Syukri Sarif mengatakan bahwa 23 relawan Anies yang berhimpun dalam forum solid. Dalam beberapa kegiatan forum, masing-masing relawan senantiasa mengirimkan perwakilannya untuk hadir. “Koordinasi dan kolaborasi tetap berjalan baik, apapun kegiatan forum selalu disupport dengan mengirimkan perwakilannya,” katanya. (zad/r2)
Editor : Administrator