LombokPost – Wakil Ketua DPRD NTB Muzihir mengapreasi gerak cepat yang dilakukan pemerintah.
Baik Pemkot Mataram maupun Pemprov NTB. Bahkan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Wali Kota Mataram Mohan Roliskana langsung turun memimpin proses evakuasi dan pembersihan lingkungan pascabanjir.
"Di luar dampak banjir ini, kita patut apresiasi Pak Gubernur dan Pak Wali Kota. Karena sudah merespon cepat dengan turun langsung memimpin proses evakuasi," kata Muzihir.
Menurut Muzhir, banjir bandang yang terjadi pada akhir pekan lalu menjadi yang paling parah dalam 50 tahun terakhir.
Dia pun mendesak Pemkot Mataram untuk membongkar bangunan permanen yang berdiri di atas saluran drainase.
"Musibah banjir ini harus menjadi pelajaran untuk berbenah dengan memperbaiki tata kelola sungai maupun saluran drainase dalam kota," ujar politikus PPP itu.
Ketua Komisi IV DPRD NTB Hamdan Kasim meminta publik untuk tidak saling menyalahkan.
Lebih baik, kata dia, fokus membantu meringankan beban para korban.
Terhadap infrastruktur yang rusak akibat banjir harus segera dilakukan kebaikan.
"Saya lihat Pak Gubernur dan Pak Wali Kota sudah turun sejak awal banjir. Sangat luar biasa dan itulah yang diharapkan oleh warga dan kita semua. Pemerintah harus hadir untuk rakyat," papar Hamdan.
Menurutnya, bencana banjir yang menerjang Kota Mataram itu telah menyisakan rasa duka dan prihatin bagi warga terdampak.
Apalagi kerugian materi yang dialami diperkirakan cukup besar sehingga menambah derita para korban.
Oleh karenanya, kehadiran pemerintah tentu menjadi harapan warga ditengah kondisi bencana itu.
Dia berharap semua pihak bisa berkolaborasi dan bergandengan tangan dalam menanggulangi dampak banjir yang terjadi di Kota Mataram.
Lebih jauh Hamdan juga menekankan pentingnya penanganan pascabencana secara menyeluruh.
Bukan hanya membersihkan sampah, tapi juga mengantisipasi penyakit dan pembenahan infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat banjir.
"Mari kita fokus, kita kolaborasi dan bergandengan tangan. Karena ini adalah masalah kemanusiaan," tandas politikus Golkar itu. (mar/r2)
Editor : Jelo Sangaji