Namanya H Najamudin, lahir tahun 1972 silam. Dia pernah berurusan dengan aparat dimasa orde baru karena nekat mendirikan radio kampus, saat kuliah di Universitas Udayana Bali.
DEDI SS – Praya
================
Begitu menjadi mahasiswa FKIP, di UNUD Bali tahun 1992 silam. Suami dari Hj Dewi Lestiani ini langsung mendirikan radio kampus. Kala itu, dioperasikan dari kosnya. Uang belanja dan kebutuhan hidupnya, digunakan untuk membeli alat-alat radio. Nama radionya, Esek-esek.
Eits, tunggu dulu. Jangan cepat berpikir negatif. Diberi nama Radio Esek-esek karena saat mencari siaran radio kampus yang dimaksud, yang muncul suara seperti gerimis hujan, tidak begitu terang. Di udara, dia dikenal dengan sebutan Oding. Setahun berkarir pada radio kampus, mantan aktivis ini diminta bekerja di radio Guntur FM Bali. Itu dilakoni hingga pertengahan 1997.
Di tempat itu, nama Oding semakin dikenal luas. Dari bergelut di dunia penyiaran tersebut, dia juga menemukan jodohnya yang sekarang menjadi istri tercinta. Diceritakannya, pada era itu, menjadi seorang jurnalis tidaklah mudah. Salah sedikit, maka siap-siap saja berurusan dengan aparat.
Bapak tiga orang anak itu sempat merasakannya. Radio kampus yang siaran 24 jam tersebut, terancam diberedel. Itu karena, menyiarkan kritikan kepada pemerintah. ”Untungnya, informasi itu bocor,” ujarnya.
Sontak beberapa mahasiswa yang ikut menjadi penyiar, bergegas merapikan alat-alat radio. Lalu, memindahkannya ke kampus yang kala itu agak jarang dimasuki aparat. Selamat, tak ada bukti yang bisa memberatkannya. Kendati demikian, suasana kala itu dikatakan cukup mencekam dan menakutkan.
Kondisi itu membuat siaran radio kampus di stop beberapa hari, menunggu waktu tenang. Itu hanyalah satu dari sejumlah lika-liku yang dirasakannya. Jika tak kuat mental, bisa-bisa mundur ditengah jalan.
Hal lain yang tak ditemukan pada penyiar saat ini adalah, harus menghafal posisi kaset. Begitu ada permintaan, tangan harus dengan cepat mencari. Entah lagu-lagu Indonesia, India, barat, maupun Malaysia. Berbeda dengan penyiar sekarang yang tinggal pencet layar. ”Kemudian 1996, saya di wisuda,” cetusnya.
Oding lantas diminta pulang ke kampung halaman. Kedua orang tua memintanya, menjadi guru. Namun, jiwa radionya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alhasil, dia bergabung di Radio Hccandra pada akhir tahun 1997, hingga sekarang.
Di Hccandra yang sebelumnya berkantor di Mataram, kemudian pindah ke Narmada, Lombok Barat ini, namanya dikenal luas dengan sebutan Gus Ding. Kini, dia menjadi Direktur Penyiaran. ”Dulu, saya yang melatih dan membimbing penyiar-penyiar radio seluruh Loteng,” kata Gus Ding, yang sekarang mengabdi juga sebagai guru di MTsN 2 Loteng tersebut. (r9/*)
Editor : Administrator