“Itu yang paling penting,” pesan Bupati Loteng HL Pathul Bahri saat berkunjung ke RSUD Praya, Sabtu (25/2).
Bagi Pathul, akreditasi paripurna hanyalah sebutan nama, tulisan atau gambar dan penghargaan semata. Yang paling utama, implementasi dari penghargaan tersebut. Yakni pelayanan kesehatan yang semakin lebih baik lagi.
“Tidak boleh ada lagi perbedaan pasien kaya dan miskin, tidak boleh ada lagi penanganan kesehatan yang ditunda-tunda dan tidak boleh didahului urusan dokumen daripada urusan penangan kesehatan,” ujarnya.
Kemudian, alat-alat kesehatan dan obat-obatan harus lengkap. Para nakes harus siap siaga, kapan pun dan dalam situasi apapun.
Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Loteng tersebut tidak ingin ada lagi keluhan-keluhan yang datang dari pasien dan keluarga pasien. Citra buruknya pelayanan kesehatan di RSUD Praya harus benar-benar dihilangkan. Seperti yang pernah-pernah terjadi sebelumnya.
“Intinya, kalau sudah menyabet akreditasi paripurna, maka pelayanan yang ada harus prima,” kata Pathul.
Untuk itu, pihaknya memastikan terus memantau perkembangan akreditasi paripurna dan kerja-kerja nyata yang dijalankan RSUD Praya. Pihaknya percaya lewat kepemimpinan baru di RSUD Praya, rumah sakit milik Pemkab Loteng itu akan mendekati kata sempurna.
“Yang paling utama dan pertama kami benahi yakni, urusan pelayanan,” kata Direktur RSUD Praya dr Mamang Bagiansah pada Lombok Post, terpisah.
Pelayanan harus ekstra cepat. Misalnya, setiap pasien yang datang maksimal 3,5 menit tertangani di ruang IGD. Kemudian, ramah, salam, sapa dan senyum. “Tidak boleh ada muka judes dan lain sebagainya,” pesannya.
Terlebih, RSUD Praya pernah memberikan pendidikan dan pelatihan bagi sebagian nakes, dan para pegawai tentang hospitality. Bekerja sama dengan Poltekpar Lombok dan sejumlah hotel. Untuk itu, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ada wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari di RSUD Praya.
“Saya ingin budaya melayani itu benar-benar maksimal dijalankan,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Loteng tersebut. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita