"Hasil tahun ini bisa saja nanti berkurang atau bertambah kita belum tahu, nanti ada data resminya. Tapi untuk data terakhir hingga awal Mei tahun ini mencapai 11 ribu lebih keluarga miskin ekstrem," ucap Statisi Madya BPS NTB Arrief Chandra Setiawan usai menghadiri rapat koordinasi kemiskinan Loteng di ballroom kantor bupati, Senin (15/5).
Namun jika melihat tahun sebelumnya, angka kemiskinan ekstrem Loteng mengalami peningkatan dari tahun 2021-2022. Tahun 2021 mencapai 1,72 persen menjadi 3 persen di tahun 2022. Artinya ada peningkatan jumlah penduduk miskin ekstrem dari 169.300 jiwa menjadi 297.900 jiwa. "Loteng menempati urutan kedua se-NTB setelah Lotim," tambahnya.
Sedangkan untuk angka kemiskinan secara makro, ucap Arrief, mencapai 12,89 persen di tahun 2022. Persentasi ini lebih kecil dibandingkan tahun 2021 yang mencapai 13,44 persen atau dari 131.937 jiwa menjadi 128.000 jiwa. "Hasil ini sengaja dilaporkan agar kepala daerah kabupaten/kota, camat, kepala desa/lurah hingga dusun/RT mengetahui kondisi kemiskinan ekstrem di lapangan," paparnya.
Dikatakan, angka kemiskinan dan kemiskinan ekstrem masih bersifat dinamis. Naik turunnya angka disebabkan beberapa faktor antara lain, pindah alamat karena menikah, meninggal dunia dan lainnya. Sehingga BPS merasa perlu untuk mengkroscek data tersebut, selain data bersifat by name by address agar tak ada kesalahan data. "Jangan sampai ada data dusta diantara kita," selorohnya.
Arrief menambahkan, hasil Regsosek untuk Loteng baru mencapai 53 persen. Ditargetkan rampung pada tanggal 21 Mei tahun ini.
BPS optimis dapat tepat waktu lantaran progres perhari berkisar 10-15 persen dengan jumlah petugas hampir delapan ribu se-NTB. "Bahkan kami rencanakan tanggal 18-20 Mei ini sudah klir dan rilis sekitar bulan Juli atau Agustus," ucap Arrief.
Hasil Regsosek akan menjadi data acuan atau satu data yang akan digunakan pemerintah dari pusat hingga daerah untuk mereformasi data perlindungan sosial dan kegiatan program pemerintah.
Rapat koordinasi kemiskinan yang digelar Pemkab Loteng bersama seluruh jajaran OPD, camat, kepala desa dilakukan secara tertutup. Bahkan bupati yang ditemui usai menggelar rapat enggan berkomentar terkait hasil rapat tersebut. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita