LOMBOKPOST-Persoalan krusial yang dihadapi petani bukan hanya tentang pupuk subsidi dan benih saja. Namun saat memasuki musim tanam, mereka selalu dihadapkan dengan sulitnya memperoleh air untuk mengairi sebagian besar lahan tadah hujan tersebut.
“Persoalan yang sering timbul ditingkat petani adalah air atau irigasi, selain pupuk dan benih,” ungkap Anggota DPRD Loteng Dapil 5 Jonggat-Pringgarata Andi Mardan, Rabu (7/2).
Persoalan air ini, kata dia, disebabkan beberapa hal. Seperti kondisi debit air itu sendiri, dimana setiap tahun selalu berkurang. Sementara satu sisi kurangnya antisipasi yang dilakukan bersama-sama dalam menjaga debit air tersebut. “Padahal perda soal debit air ini ada, namun belum maksimal dilakukan,” timpal politisi Demokrat itu.
Kemudian, tentang pengaturan air ketika melintasi saluran irigasi. Ia kerap menemukan dan mendapat laporan bahwa masih ada oknum-oknum yang memanfaatkan pengaturan air ini. Dimana jika petani ingin mendapat jatah air, maka harus mengeluarkan sejumlah uang alias berbayar. “Seakan-akan ada timbal balik, namun ini menjadi kendala yang harus dirapikan,” ucapnya.
Selanjutnya, persoalan debit air milik Loteng namun masuk ke kabupaten lain seperti Lombok Barat yang mencapai 30 persen. Dengan catatan selama Bendungan Meninting masih dalam proses pembangunan. Artinya, setelah bendungan ini kelar seharusnya tidak lagi air tersebut disalurkan ke Gumi Tripat. “Saya harap pemda Loteng tidak tutup mata terhadap persoalan ini,” tegas Andi.
Mantan ketua Komisi III DPRD Loteng ini berharap, pemda melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera membenahi. Bukan karena sensional antar kabupaten, melainkan pendistribusian air dari bendungan yang dimiliki ternyata tidak dinikmati sepenuhnya oleh para petani Gumi Tastura.
“Mungkin ini dianggap persoalan kecil, namun bagi saya ini persoalan krusial yang mesti dan segera dibenahi pemerintah. Jangan lagi kita dihadapkan, masuk musim tanam justru ribut soal air,” tukas Andi.
Terpisah, Kepala Dinas Peratanian (Dispertan) Loteng Muhammad Kamrin mengatakan, debit air yang dimiliki Loteng saat ini belum bisa mencukupi untuk mengairi lahan persawahan. Sehingga sebagian besar lahan adalah tadah hujan. Sedangkan satu sisi, musim tanam pertama mundur karena musim penghujan yang belum rutin terjadi.
“Sumber air kita ini kan mengandalkan air hujan juga, ditambah sistem irigasi yang terkoneksi se pulau Lombok, artinya sistem irigasi yang ada memang terbagi untuk Loteng, Lobar, Lotim,” kata dia.
Melihat pola tersebut, kata Kamrin, maka debit air harus dibagikan sesuai potensi wilayah masing-masing. Untuk di Loteng, sebagian besar musim tanam terbantu dengan air hujan. Sebab, tidak semua saluran irigasi ini mampu menjangkau medan-medan persawahan terutama yang didataran tinggi.
Meski demikian, agar persoalan ini tidak berlarut-larut pihaknya sudah bersurat kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) agar pemda dapat mengatur kembali pola irigasi secara khusus. Akibat terlambat musim tanam hingga dua bulan, menyebabkan Loteng darurat irigasi. “Harusnya kan kita semua sudah tanam serentak, akibat el nino semua terlambat dan yang sudah tanam pun terancam kekeringan,” tutupnya. (ewi)
Editor : Redaksi Lombok Post