LombokPost-Dinas Pertanian (Distan) Lombok Tengah (Loteng) menyebut sejumlah petani telah mulai panen pada pertengahan Maret, sehingga ketersediaan beras untuk masyarakat pada Ramadan dipastikan aman. Ini juga membuat harga beras berangsur turun.
”Petani kita saat ini telah mulai panen. Tidak ada kelangkaan beras,” kata Kepala Bidang Perkebunan Dispertan Loteng Zaenal Arifin, Minggu (17/3).
Ia mengatakan, dari 52 ribu hektare luas tanaman padi pada musim tanam pertama ini, sekitar 5 persennya telah panen. Petani yang panen tersebar di Kecamatan Praya Tengah, Praya Barat, Batukliang, Batukliang Utara.
Sedangkan untuk kecamatan lain, kondisi tanaman sedang berisi dan diperkirakan panen pada akhir April 2024. ”Sekitar 2 ribu hektar lahan pertanian yang sudah panen,” tambahnya.
Sehingga, sambung Zaenal, harga gabah mulai turun menjadi Rp 500 ribu per kuintal dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 700 ribu. Dengan kondisi ini, harga beras di pasaran akan turun, meski saat ini masih di angka Rp 15 ribu per kilogram.
”Harga beras akan menyesuaikan dengan harga gabah. Karena petani kita saat ini mulai ada yang panen,” ucap dia.
Sementara itu, produksi gabah pada musim tanam 2023 meningkat atau mencapai 450 ribu ton bila dibandingkan dengan produksi gabah tahun 2022 yang mencapai 400 ribu ton. Sehingga stok beras untuk kebutuhan masyarakat pada 2024 ini dipastikan aman atau tidak terjadi kelangkaan.
”Produksi kita di 2023 itu meningkat, sehingga stok beras kita aman untuk kebutuhan masyarakat saat Ramadan 2024 ini,” tutup Zaenal.
Terpisah, seorang petani, Suminah dari Dusun Montong Terep, Desa Bodak mengatakan, harga gabah kini mencapai Rp 600 ribu per kuintal di tingkat petani. Sebelumnya harga gabah Rp 400 ribu per kuintal. Satu sisi, naiknya harga gabah dan beras menguntungkan petani seperti dirinya. Di tengah kondisi biaya pupuk, buruh dan operasional lainnya ikut meningkat.
”Mungkin kalau sudah panen semua, harga (gabah dan beras) bisa turun lagi,” singkatnya. (ewi/r11)
Editor : Akbar Sirinawa