LombokPost-Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Tengah (Loteng) menargetkan angka stunting pada posisi satu digit tahun 2024. Pada Februari lalu, angkanya mencapai 10,96 persen. Salah satu upaya penurunan kasus dengan memperbaiki pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau secara maksimal oleh masyarakat.
”Puskesmas yang baru sudah terbangun disini adalah Puskesmas Kopang, sedangkan di Desa Muncan, Desa Wajageseng belum ada. Melihat kemajuan Puskesmas Kopang, menjadi kebijakan pemda untuk meningkatkan pelayanan menjadi Rumah Sakit Pratama,” ucap Wakil Bupati Loteng HM Nursiah di sela-sela Safari Ramadan di kantor Camat Kopang, Loteng, Selasa (19/3) malam.
Ia menuturkan, pemilihan Puskesmas Kopang menjadi rumah sakit pratama karena kondisi gedungnya yang masih baru. Wacana ini bukan semata menjadi persaingan terhadap rumah sakit yang ada, melainkan mendekatkan pelayanan kesehatan yaitu rumah sakit kepada masyarakat yang ada di wilayah utara atau berbatasan dengan Lombok Timur.
”Agar keluarga kita yang ada di utara tidak jauh-jauh mendapat pelayanan rumah sakit, selama ini mereka ke Lotim. Satu sisi diharapkan angka stunting ini turun,” tambah mantan Sekda Loteng ini.
Diakui Wabup Nursiah, wacana ini masih akan diusulkan. Namun diharapkan dapat diterima Kementerian Kesehatan RI tahun ini. Sebab peningkatan pelayanan kesehatan ini juga untuk mendukung pengembangan pariwisata di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Sehingga dilakukan kaji layak atau tidak untuk pembangunan rumah sakit pratama itu.
”Pemda mengusulkan. Tapi jika itu layak untuk peningkatan pelayanan kesehatan, kenapa tidak kita bangun,” kata politisi Golkar itu.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng dr Suhardi menyampaikan, wacana menjadi Puskesmas Kopang menjadi rumah sakit pratama untuk pemerataan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah utara.
”Jika di selatan kita ada rumah sakit internasional, di tengah ada RSUD Praya yang sedang diupayakan naik ke tipe B, sedangkan di utara kita belum punya rumah sakit,” ucapnya pada Lombok Post, Rabu (20/3).
Ia menjelaskan, dari sisi geografis ada beberapa puskesmas yang dilintasi jalan negara. Yakni, Puskesmas Kopang, Puskesmas Mantang, Puskesmas Aik Darek. Namun pertimbangan Dikes Loteng yang lebih layak adalah Puskesmas Kopang mengingat berada di perbatasan dengan Lotim.
”Banyak sekali masyarakat kita justru berobat ke sana (Lotim, red), karena kita tidak punya rumah sakit di utara. Sementara ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan di atas pelayanan dasar puskesmas,” terangnya.
Wacana ini pun sudah disampaikan kepada bupati maupun wabup, agar Dikes Loteng segera menyiapkan Puskesmas Kopang menjadi Rumah Sakit Pratama. Tentunya ini mesti melewati sejumlah kajian teknis. Antara lain, jumlah penduduk, akses, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dan lainnya.
Awalnya, pemda Loteng berencana mengajukan wacana ini kepada Kementerian Kesehatan RI agar dibiayai pusat. Dari sisi persyaratan, ada salah satu syarat yang tidak terpenuhi. Yaitu, lamanya waktu tempuh harus minimal tiga jam. Sedangkan waktu tempuh antara satu puskesmas dengan rumah sakit tidak ada yang sampai tiga jam.
”Dari sisi luas lahan kita punya tiga hektare, namun untuk waktu tempuh ini yang tidak. Sehingga disarankan pusat menggunakan APBD atau dana daerah,” kata dia.
Melihat solusi ini, pemda pun berupaya menggunakan APBD namun berapa anggaran yang dibutuhkan masih dihitung, sembari tuntaskan kajian teknis. ”Kajian teknis ini kita target tuntas tahun ini, sehingga tahun 2025 sudah bisa dibangun penambahan fasilitas rumah sakit pratamanya,” tutup Suhardi. (ewi/r11)
Editor : Akbar Sirinawa