Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Zikir Saman, Tradisi Unik Padukan Gerakan Silat Sambil Mendoakan Calon Jamaah Haji

Lestari Dewi • Sabtu, 18 Mei 2024 | 17:05 WIB
TRADISI UNIK: Zikir saman dilakukan puluhan pemuda dari Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat. Tradisi unik mendoakan calon jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci.(dewi/LombokPost)
TRADISI UNIK: Zikir saman dilakukan puluhan pemuda dari Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat. Tradisi unik mendoakan calon jamaah haji yang berangkat ke Tanah Suci.(dewi/LombokPost)

LombokPost-Zikir saman, tradisi unik yang diiringi gerakan pencak silat sekaligus mendoakan calon jamaah haji yang hendak ke Tanah Suci.

Seperti yang dilakukan puluhan pemuda asal Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat.

Ba'da solat isya, puluhan pemuda dari yang kecil, remaja dan dewasa berkumpul di halaman rumah milik Lalu Suandi.

Warga dari Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat itu bukan hendak pergi perang antar kampung, melainkan bersama-sama menuju kediaman Lalu Salihin warga desa sebelah yang hendak berangkat haji ke Tanah Suci.

Mengenakan sarung, baju koko berwarna putih dan peci hitam, mereka akan melakukan salah satu tradisi unik mengantar jamaah calon haji, yaitu Zikir Saman.

Tradisi ini perpaduan 40 gerakan pencak silat dengan lantunan salawat Nabi Muhammad.

Bertujuan mendoakan masyarakat yang berangkat haji ke Tanah Suci, agar selamat selama perjalanan, dimudahkan ibadah, pulang dengan selamat dan menjadi haji mabrur.

"Zikir Saman ini salah satu tradisi warga Lombok, khususnya dari dusun kami. Mendoakan seluruh jamaah calon haji agar selamat," ungkap Lalu Suandi tokoh masyarakat setempat.

Diakui Suandi, tradisi ini sudah cukup lama ditinggalkan lantaran dinilai sulit karena perpaduan pencak silat yang diiringi lantunan salawat pada Rasullulah.

Melihat tradisi ini sangat berdampak positif, sekaligus melestarikan agar tidak hilang, Suandi pun mengajak para pemuda-pemuda untuk kembali melanjutkan tradisi generasi terdahulu. Diharapkan generasi sekarang dapat melanjutkan pada generasi berikutnya.

"Pemuda-pemuda yang sekarang ini adalah mereka yang dahulunya sejak kecil sudah ikut bapaknya berzikir, terbiasa ikut jadinya cukup tahu gerakan-gerakan, namun tetap kita (generasi tua, red) ajarkan kembali," ucap bapak tiga anak ini.

Biasanya, Zikir Saman dilakukan pada malam hari di rumah si pemilik hajat.

Mereka akan berkumpul usai salat isya dan berangkat bersama-sama menuju rumah calon jamaah haji.

Permintaan Zikir Saman ini tidak hanya datang dari desa-desa di Gumi Tastura saja.

Belum lama ini, mereka sudah pentas ke Lembar, Lombok Barat dan Pemenang di Lombok Utara.

Suandi mengaku tidak ada patokan tarif khusus menggelar Zikir Saman ini, seikhlasnya yang punya hajat.

Sebab, satu sisi puluhan pemuda yang ikut Zikir Saman itu hanya untuk menyalurkan hobi dan memberikan hiburan kepada si tuan rumah.

Sekaligus menyehatkan tubuh para pemuda karena gerakan-gerakan diadaptasi dari gerakan pencak silat.

"Seberapa kasihnya, terkadang kita cukup disajikan dengan kopi, makan, rokok atau bensin truk. Itu saja," ucapnya.

Sementara itu, Lalu Salihin salah satu calon jamaah haji asal Loteng yang hendak berangkat memang sengaja menghadirkan Zikir Saman di rumahnya.

Tradisi ini cukup menghibur para warga sekitar serta menjalin silaturahmi dengan desa-desa lainnya.

"Alhamdulillah kami cukup terhibur, semoga tradisi ini tetap terjaga. Dan kami senantiasa didoakan seluruh masyarakat agar selamat saat berangkat, saat beribadah, hingga pulang ke Tanah Air nanti," tutup dia. (ewi/r11)

Editor : Kimda Farida
#Haji #Loteng #zikir