LombokPost--Euforia ajang balapan MotoGP Mandalika 2024 di Sirkuit Internasional Mandalika belum berakhir.
Namun, beredarnya video pornoaksi yang diduga dilakukan sepasang turis di pesisir pantai Kuta Beach Park, di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika meresahkan dunia maya.
Video yang diunggah pada laman Facebook ini pun mendapatkan 230 ribu tayangan dengan ribuan komentar.
Ketua Blok Pujut Rata Wijaya menegaskan, beredarnya video pornoaksi sangat mencoreng citra pariwisata.
Terlebih NTB dikenal sebagai kawasan pariwisata halal.
Aksi tersebut tidak hanya melanggar norma.
Namun tatanan budaya dan agama di Gumi Seribu Masjid ini.
”Jika itu warga lokal sudah pasti habis dibakar warga. Tapi, jangan atas nama wisatawan mancanegara atau turis yang dikenal budaya bebas, justru bebas melakukan hal demikian di NTB apalagi Lombok,” tegasnya yang dikonfirmasi Lombok Post, Selasa (1/10).
Ia pun mendorong aparat penegak hukum segera bertindak, sebab video pornoaksi di pantai Mandalika itu sudah melanggar hukum.
“Ini segera kami laporkan, dan harapkan APH fokus pada pelakunya,” sebutnya.
Selain itu, ia menyayangkan tata kelola dan sistem keamanan yang dikelola The Mandalika maupun InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola KEK Mandalika.
“Padahal tatakelolanya sudah terjaga, tersistem tapi kok masih bisa ada yang begini. Petugas keamanan tidak berpatroli atau bagaimana,” sindir Rata sekaligus Sekretaris Asosiasi Hotel Mandalika ini.
Diketahui, lokasi pornoaksi berada pada bagian timur pantai Kuta atau dekat dengan Mandalika Kuta Beach Club (MBC).
Lokasi tersebut memang agak sepi dari pengunjung. Namun tetap saja berada dalam kawasan utama KBP.
“Ini jadi insiden buruk, irisan dari orang (turis, red) yang tidak baik dan sistem tata kelola yang tidak baik juga,” kata dia.
Terpisah, Kapolres Loteng AKBP Iwan Hidayat mengatakan, pihaknya akan mencari tahu kebenaran video pornoaksi yang viral ini.
Guna memastikan video ini benar atau tidak, polisi juga akan mencari pengunggah pertama video untuk diminta klarifikasi.
“Kita cari tahu dulu kebenarannya, kalau benar kita akan tangkap pelaku. Pengunggah pertama juga kita cari tahu, kapan peristiwa ini direkam,” singkatnya pada wartawan. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida