LombokPost-Anak berkebutuhan khusus (ABK) juga memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan keterampilan. Agar tak lagi dipandang sebelah mata, Endang Purwati mendedikasikan dirinya mendidik anak-anak berkebutuhan khusus ini. Berikut ulasannya.
LESTARI DEWI, Lombok Tengah.
SOSOK wanita bernama Endang Purwati tak banyak diketahui orang. Dia adalah salah satu pengajar yang bertugas di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Lombok Tengah (Loteng). Tujuannya hanya satu ketika berkecimpung di dunia ini, yaitu anak-anak berkebutuhan khusus mempunyai hak yang sama dalam mendapat pendidikan dan keterampilan. Agar mereka tak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
”Bukan hanya anak-anak yang normal saja butuh sekolah, mereka (anak berkebutuhan khusus, red) juga membutuhkan dan mendapat hak yang sama,” ungkapnya pada Lombok Post di sela-sela kegiatan Forum Kehumasan Poltekpar Lombok di Desa Wisata DeTatar, Kecamatan Narmada, Lobar, Kamis (14/11).
SLBN 2 Loteng menerima peserta didik dengan lima jenis anak berkebutuhan khusus. Mulai dari, tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa dan autis. Endang pun menangani tiga rombongan belajar (rombel) tuna rungu. Setelah berinteraksi dengan para murid ABK ternyata kemampuan mereka tidak kalah dengan anak-anak normal.
”Sekolah ini kan satu atap, dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Teori pembelajaran hanya berlangsung hingga pukul 11.00 Wita, selepas itu kita perbanyak keterampilan. Seperti salon, kecantikan, tata boga, bengkel dan sebagainya,” jelas wanita asal Kota Praya ini.
Dengan memperbanyak skill bagi ABK ini, kata dia, diharapkan ketika mereka lulus sekolah sudah memiliki keterampilan. Dari keterampilan ini bisa melamar pekerjaan maupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. “Selesai sekolah minimal mereka bisa mandiri ketika akan mencari pekerjaan,” katanya.
Hampir 18 tahun mengajar di SLBN 2 Loteng, diakui sudah banyak makan asam garam. Sebagai guru maka harus banyak-banyak memiliki kesabaran dan keikhlasan. Menciptakan suasana belajar-mengajar di SLBN 2 Loteng haruslah semenarik mungkin.
”Meski pun kita sampai diludahi sama anak-anak, kita tidak boleh marah justru merangkul mereka dan perbanyak reward bagi mereka. Seperti bilang cantik, gagah dan acungkan jempol meskipun dia salah,” terang Endang.
Endang yang mengambil jurusan Pendidikan Khusus di Kota Bandung ini berharap, prodi serupa dapat hadir di kampus-kampus Kota Mataram. Mengingat jumlah guru yang mengajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus sangatlah kurang. Satu guru seharusnya mengajar lima anak murid. “Tapi justru saya sampai pegang tiga rombel, harusnya maksimal lima anak,” katanya.
Selain itu, peminat prodi pendidikan khusus ini menurutnya banyak terlihat ketika dirinya mengenyam pendidikan di Kota Bandung. Dan belum lama ini kedua anaknya yang mengikuti jejaknya menempuh pendidikan khusus harus menempuh pendidikan bangku kuliah keluar daerah.
”Kami harapkan ada prodinya dibuka, tidak lagi kita keluar daerah. Sebab tak sedikit juga anak-anak ABK ini yang punya kemampuan, usai kuliah kembali lagi ke sekolah untuk menerapkan ilmu-ilmu di perguruan tinggi menjadi pengajar adik-adiknya,” tutup Endang. (*/r11)
Editor : Akbar Sirinawa