Lombok Post-Harga cabai rawit berangsur-angsur turun di Lombok Tengah (Loteng).
Dari semula Rp 200 ribu per Kilogram (Kg) kini berada di posisi Rp 120 ribu per Kg. Dinas Pertanian (Distan) Loteng menyebut kenaikan harga diakibatkan tingginya permintaan sementara pasokan cabai terbatas.
“Cuma sehari naik, sekarang sudah turun,” cetus Kepala Distan Loteng M Kamrin pada wartawan, Rabu (5/2).
Ia menyebut, satu sisi kenaikan harga cabai rawit dikeluhkan konsumen.
Namun sisi lain, diharapkan kenaikan harga cabai menguntungkan petani.
Saat ini, luas area tanam cabai di Gumi Tastura sebanyak 82 hektare.
Tetapi jumlah petani yang menanam cabai melawan musim (penghujan, red) sangatlah sedikit.
“Kami meminta petani tanam cabai melawan musim, tujuannya agar pendapatan mereka bertambah,” tambahnya.
Dihadapkan posisi musim penghukan, kata Kamrin, maka dibuatlah program pemerintah untuk mendorong minat petani menanam cabai yaitu melalui Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Pada program ini, desa wajib alokasikan dana desanya minimal 20 persen untuk pekarangan.
“Dan apa yang paling cocok? Ya tanam cabai, terong, tomat dan lainnya tujuannya untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini,” kata mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Loteng ini.
Lantas mengapa kenaikan harga cabai kerap terjadi saat bulan puasa?
Tidak hanya tradisi masyarakat Lombok yang menyukai makana bercita rasa pedas, selain hasil produksi berkurang akibat penghujan, seharusnya hal seperti ini bisa diantisipasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng dalam hal tata niaga.
Adanya perbandingan harga cabai antara Kota Mataram dengan Praya, Loteng diakibatkan hasil produksi cabai petani Loteng dibeli oleh pedagang Kota Mataram dan Lobar.
Selanjutnya, cabai tersebut dijual di Kota Mataram yang dibeli oleh pedagang Loteng.
Ketika kembali lagi dijual di pasar-pasar tradisional harganya melonjak tajam.
“Sehingga distribusi yang panjang itu membuat kenaikan harga cabai signifikan. Padahal di Mataram tidak ada lahannya. Balik lagi kesini, justru mahal,” terangnya.
Sebab itu, dirinya berharap Disperindag Loteng dapat memperhatikan aspek tata niaga komoditas cabai. Artinya, selain produksi cabai, perlu menjadi perhatian tata niaga di pasar karena mempengaruhi harga cabai.
“Cabai ini komoditas nasional, maka harga pasar di Pulau Jawa menentukan harga lokal. Ketika disini murah, cabai akan dikirim petani ke Jawa,” ucap Kamrin.
Sementara itu, kondisi kenaikan harga cabai turut menjadi perhatian kepolisian. Dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Polres Loteng telah meluncurkan program P2L. Program ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan pekarangan Polres Loteng secara optimal, guna memenuhi kebutuhan pangan berkelanjutan serta menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat.
“Kami ingin mendorong kemandirian pangan di tingkat rumah tangga dan komunitas, sekaligus antisipasi seperti kenaikn harga cabai,” ucap Kabag SDM Polres Loteng Kompol Maskur.
Program P2L ini, kata dia, tidak hanya berfokus pada pemanfaatan lahan kosong untuk bercocok tanam, tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat dan bergizi. Serta semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
“Kami berharap program ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap ketahanan pangan dan kesehatan keluarga mereka,” tutup dia. (ewi/r6)
Editor : Prihadi Zoldic