Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bincang dengan Hamdan, Mantan PMI yang Miliki Usaha Unik "Kafe Nasi Balap" di Darek Loteng

Lestari Dewi • Kamis, 17 April 2025 | 13:25 WIB
Sejumlah pengunjung meramaikan warung nasi balap ala mini kafe milik Hamdan di Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Loteng, Selasa (15/4).
Sejumlah pengunjung meramaikan warung nasi balap ala mini kafe milik Hamdan di Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Loteng, Selasa (15/4).

Tampilan warung makan umumnya simple atau sederhana.

Bukan berarti kotor atau awut-awutan.

Hamdan pun adopsi warung makan sederhana miliknya menjadi lebih estetik dan nyaman.

Solusi tempat nongkrong seru di Desa Aik Dareq, Kecamatan Batukliang.

---------

LAHAN parkir yang luasnya tak kurang satu are itu selalu penuh oleh kendaraan bermotor milik pengunjung.

Mereka datang hendak menyantap menu nasi campur atau nasi balap ayam pelecingan yang disajikan warung sederhana milik Hamdan dan Linda Maryani.

Uniknya, warung sederhana yang berlokasi di Desa Aik Dareq, Kecamatan Batukliang ini disulap Hamdan menjadi warung makan yang estetik ala mini kafe.

Mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ini ingin menampilkan kesan warung makan yang nyaman dan menjadi tempat tongkrongan seru bagi pengunjungnya.

“Kebanyakan kan warung makan itu biasa-biasa saja, sederhana. Saya ubah mindset (pola pikir, red) agar menjadi daya tarik orang (pengunjung, red) mau datang,” ucap Hamdan, Selasa (15/4).

Ide ini muncul setelah dirinya menjadi PMI di negeri Jiran Malaysia selama 10 tahun.

Ayah dari dua anak itu kerap melihat tempat makan disana cukup menarik.

Walau sajian menu makanan dan minuman yang disajikan sederhana. Terlebih warung makan yang nyaman dan santai di Kecamatan Batukliang masih kurang.

“Dari pengalaman itulah kenapa tidak saya coba disini, buat warung tapi tampilannya ala mini kafe,” kata pria asli Desa Aik Dareq ini.

Menu yang disajikan pun makanan sederhana khas Sasak. Nasi balap atau nasi campur dengan lauk utama ayam pelecingan.

Ayam yang digunakan Hamdan adalah ayam pejantan yang lebih dulu dibakar menggunakan bara arang.

Sehingga aroma daging ayam bakar kental terasa saat bertemu dengan sambal pelecingan khas suku Sasak.

Pantauan Lombok Post ini, di atas piring nasi balap ini tidak hanya ada ayam pelecingan saja.

Nasi putih yang hangat dengan tambahan beberok sambal, mie oseng dan kering tempe menggugah selera makan.

Untuk minumannya, pengunjung bisa memilih berbagai minuman dingin yang tersedia.

Harga nasi balap ini dibanderol Rp 10 ribu per porsi.

Pengunjung bisa makan di tempat atau bungkus dibawa pulang.

Warung yang buka sejak pagi hingga sore ini selalu ramai pengunjung.

Bahkan puluhan kilogram ayam pelecingannya sudah ludes di siang hari.

“Yang datang biasanya mereka yang setelah berwisata di ke air terjun, mampir kesini untuk makan atau dibungkus untuk makan disana. Ada juga konsumen langganan dari pegawai-pegawai LPKA (lembaga pembinaan khusus anak) Loteng di desa sebelah, dan UPT Dinas Pertanian Loteng,” bebernya.

Berdiri di atas lahan seluas dua are ini, Hamdan akui warung makan ini merogoh kocek cukup dalam.

Untuk bangunan saja dirinya menghabiskan Rp 150 juta dari hasilnya menjadi PMI di Malaysia.

Kelola berdua bersama sang istri, usaha ini sudah berjalan selama dua tahun lamanya.

Tak dipungkiri, Hamdan juga memimpikan suatu saat bisa memiliki rumah makan yang cukup besar di desanya.

“Insyaallah semoga dipermudah Allah SWT,” tutup dia. (*)

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #warung makan #mantan PMI #Batukliang