LombokPost-Wakil Bupati (Wabup) Lombok Tengah (Loteng) HM Nursiah mendatangi para pegiat wisata di Desa Persiapan Awang, Pujut, Loteng, pada Rabu (18/6) malam. Pertemuan itu untuk mendengarkan aspirasi langsung dari pegiat wisata juga meredam gejolak.
Diberitakan sebelumnya, viral video pengusiran pemandu wisata asal Loteng oleh Bupati Lombok Timur Haerul Warisin di perairan Pantai Ekas, Jerowaru, Lotim.
“Kami ingin memastikan bahwa pariwisata NTB, khususnya Loteng dan Lotim dapat terus berkembang dan menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara,” ungkapnya pada wartawan, Kamis (19/6).
Mantan Sekda Loteng ini menegaskan, agar semua elemen masyarakat tidak terprovokasi dengan orang-orang luar yang dapat memperkeruh keadaan.
“Mari kita turunkan tensi dan emosi. Kita harus mengedepankan koordinasi dan komunikasi agar pariwisata NTB bisa menjadi destinasi wisata berkelas dunia,” katanya.
Dikatakan, dirinya akan melakukan koordinasi dengan Bupati Lotim Haerul Warisin untuk menemukan solusi atas insiden pengusiran pemandu wisata di Pantai Ekas.
“Kita selaku pemerintah daerah, intinya penting selalu koordinasi dengan pak Bupati (Haerul Warisin),” kata wabup.
Wabup menyampaikan, setiap pemkab tentu mengharapkan wisatawan yang datang ke daerah agar kemudian berbelanja dan menginap di daerahnya.
Namun, lanjutnya, kedatangan wisatawan pasti sesuai dengan kebutuhan. Contoh, jika ada wisatawan memiliki tujuan ke Loteng maka pemkab mengharapkan agar mereka berbelanja dan menginap di Loteng.
“Tapi kita kan sangat menghargai kebutuhan dan kepentingannya masing-masing wisatawan. Tapi mari kita kembali menghidupkan pariwisata semua kita bersama-sama,” harapnya.
Wabup mengatakan, Dispar Loteng terus meningkatkan hubungan antar daerah dalam pengelolaan destinasi. Itu menjadi bagian tupoksi yang harus ditingkatkan dan dikembangkan untuk menghindari persoalan semacam ini terjadi kembali.
Wabup menyampaikan, potensi destinasi pariwisata NTB memiliki keunggulan serta karakteristik masing-masing. Baik itu di Loteng, Lotim, Lobar, KLU hingga pulau Sumbawa. Masing-masing kabupaten/kota ini mempunyai peraturan daerah yang menjadi pedoman kabupaten/kota.
“Di sini memang penting melalui Dispar NTB segera merespon, kaitannya dengan dinamika yang terbaru,” tutup dia.
Terpisah, Anggota DPRD Loteng Ahmad Syamsul Hadi menyebutkan, video marah-marah Bupati Lotim Haerul Warisin kemungkinan sedang capek sehingga butuh healing (penyegaran, red).
“Ya, bupati mungkin butuh healing lah, butuh liburan. Istirahat sejenak,” ujarnya pada wartawan di ruang kerjanya.
Ketua DPD Partai NasDem Loteng ini pun meminta agar video viral tersebut tidak ditanggapi berlebihan oleh masyarakat. Artinya, semangat bupati politisi Gerindra tersebut harus diapresiasi lantaran hendak memajukan pariwisata di Gumi Paer.
“Tapi (menyarankan, red) agar bupati Lotim juga harus memeriksa secara lebih komprehensif, pariwisata, sporttourismnya, karena ini kan kita menjual (jasa pariwisata),” sebutnya.
Menurutnya, tidak ada yang keliru dari cara bupati Lotim. Namun memang, kurang baik dan kurang tepat ketika seorang kepala daerah melakukan tindakan marah-marah di depan wisatawan asing.
“Nah, sekarang pemkab Lotim coba mikir deh untuk memperbaiki itu. Apa yang diperlukan? Guide-nya sudah bagus atau tidak? Infrastrukturnya diperbaikilah, kan infrastruktur ini bukan hanya jalan, tapi organisasi kepariwisataan dan perangkat-perangkatnya,” beber Bang Memed sapaannya.
Diketahui, persoalan ini sudah lama terjadi namun belum ada solusi hingga kini. Sebab itu, dia menyarankan agar kedua belah pihak bisa duduk bersama.
Sebab persoalan ini bukan bicara soal zona eksklusif atau kawasan. Melainkan soal keberadaan wisatawan yang hendak berselancar namun dilarang karena tidak menginap di Lotim.
“Misalnya, orang menginap di Kuta, Awang, Mertak, terus mau berselancar ke Pantai Ekas karena ombaknya bagus, sampai disana tidak boleh. Apa kata dunia? Berkaca dari MotoGP deh, sirkuitnya di Loteng, tapi dimana yang penuh hotelnya? Mataram, Senggigi, semua kebagian,” tegas dia.
Baca Juga: Bayern Munich dan Al Hilal Berebut Rafael Leao AC Milan
Kondisi ini pun tidak menimbulkan komplain masyarakat Loteng. Sebab daerah menyadari bahwa akomodasi masih kurang.
“Kalau kita balik masalah tadi, apakah orang harus menginap dulu di sana baru boleh berselancar di Ekas, kan kalimat ini lemah sekali. Situasi ini harus segera diperbaiki,” sarannya. *
Editor : Prihadi Zoldic