LombokPost-Peresean di Alun-alun Tastura bukan hanya tontonan budaya, tetapi juga penggerak ekonomi. Tradisi sakral suku Sasak ini memberi peluang bagi UMKM untuk meraih rezeki sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah menekan angka kemiskinan di Lombok Tengah.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan, Festival Peresean yang digelar malam hari bukan hanya ajang unjuk kebolehan para pepadu, tetapi juga mesin penggerak ekonomi masyarakat. Ia menekankan keramaian yang tercipta bisa menjadi ladang rezeki.
“Banyak pedagang UMKM di Alun-alun Tastura Praya ini,” ujarnya, Sabtu (20/9).
Bupati Lombok Tengah menambahkan, semakin sering diadakan kegiatan yang menarik perhatian massa, semakin banyak warga datang untuk berbelanja kuliner dan produk UMKM lainnya.
Hal ini menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan.
“Mengundang keramaian itu dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi UMKM,” ucap Bupati Lombok Tengah.
Tak hanya Peresean, pemerintah daerah juga mengoptimalkan ruang publik dengan menggelar Car Free Day (CFD) dan Car Free Night (CFN).
Semua upaya ini, kata bupati, bertujuan menekan angka kemiskinan di Lombok Tengah.
“Dan hasilnya mulai terlihat, angka kemiskinan di daerah ini telah berkurang 13 ribu orang, kini berada di posisi 10,68 persen,” terang Bupati Lombok Tengah.
Bupati berharap kebersihan dan fasilitas alun-alun terus dijaga agar warga merasa nyaman dan kegiatan serupa bisa berlanjut.
Peresean yang diikuti petarung dari berbagai daerah di Pulau Lombok membuktikan bahwa tradisi budaya dapat bersinergi dengan ekonomi.
Dengan setiap pukulan tongkat dan sorakan penonton, festival ini tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memberi harapan baru bagi perekonomian warga Lombok Tengah.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin