Langkah tersebut menjadi strategi penting yang berdampak langsung terhadap produktivitas dan kesejahteraan petani. Selain penurunan harga, pemerintah juga mereformasi tata kelola distribusi pupuk dengan memangkas rantai administrasi agar lebih sederhana.
"Penurunan harga pupuk akan sangat dirasakan manfaatnya oleh petani, dan diharapkan mampu meningkatkan produksi serta kesejahteraan mereka," ucap Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Tengah Zaenal Arifin, Minggu (26/10).
Ia menjelaskan, harga pupuk subsidi turun cukup signifikan. Pupuk urea misalnya, dari Rp 2.250 per kilogram menjadi Rp 1.800 per kilogram. Sementara pupuk NPK dari Rp 2.300 per kilogram menjadi Rp 1.840 per kilogram.
Untuk pupuk NPK kakao, harganya turun dari Rp 3.300 per kilogram menjadi Rp 2.640 per kilogram. Pupuk ZA khusus tebu dari Rp 1.700 per kilogram menjadi Rp 1.360 per kilogram, dan pupuk organik dari Rp 800 per kilogram menjadi Rp 640 per kilogram.
“Memang ada penurunan dibandingkan sebelumnya, tapi kebijakan ini juga menimbulkan persoalan bagi petani yang sudah menebus pupuk sebelum 22 Oktober, karena mereka tetap menggunakan harga lama,” katanya.
Meski begitu, Zaenal memastikan stok pupuk bersubsidi di Lombok Tengah masih aman. Berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama Pupuk Indonesia, ketersediaan pupuk tetap terjamin.
"Dari segi kuota, serapannya di Lombok Tengah baru mencapai 72 persen, sehingga masih tersisa untuk musim tanam pertama,” jelasnya.
Ia menambahkan, musim tanam pertama tahun 2026 diperkirakan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Jika sebelumnya hujan belum turun pada Oktober, kini sejumlah wilayah sudah mulai diguyur hujan dan masyarakat bersiap menanam padi.
“Melihat sisa stok pupuk yang ada, kita pastikan kondisinya aman untuk musim tanam pertama. Masyarakat yang menebus pupuk sekarang juga sudah menggunakan harga baru yang lebih rendah,” katanya.
Editor : Siti Aeny Maryam