LombokPost-Reka adegan atau rekonstruksi pembunuhan berencana yang dilakukan Herman Jayadi (30 tahun) kepada korban M Erwin (21 tahun) telah dilakukan Kepolisian Resor (Polres) Lombok Tengah. Sebanyak 35 reka adegan diperagakan dengan menghadirkan 16 orang saksi dalam kegiatan tersebut.
Halim selaku perwakilan pihak keluarga korban mengatakan, pihak keluarga telah mengikuti dan memantau seluruh proses penyelidikan, rekonstruksi yang dilakukan Polres Lombok Tengah.
"Kami melihat proses ini dilakukan secara transparan dan terbuka, keluarga tidak ada melihat kejanggalan," ucapnya.
Pihak keluarga hanya menuntut keadilan agar tersangka Herman Jayadi alias Belo Potasium diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Keluarga merasa kehilangan terhadap sosok korban yang dikenal santun dan baik dalam kesehariannya.
"Kami hanya meminta keadilan, dia (tersangka, red) diberikan hukuman seberat-beratnya," katanya sembari menahan air mata.
Dari kejadian pembunuhan berencana atau apapun itu, Halim mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjadi manusia yang pengasih dan penyayang.
"Harus saling tunah, saling tebeng, saling kangen, saling bimbing dalam hidup, ndek saling racun," tegasnya.
Sebelumnya, Belo menjalani reka adegan sejak malam ketika ia dan korban tidur dalam satu kamar sambil memegang ponselnya. Pada adegan kedua terlihat Belo bangun pagi tetapi ponselnya sudah tidak ada.
Geram karena korban tidak mengaku, Belo merencanakan pembunuhan. Ia sempat ragu. Dalam adegan 4 dan 6 diperlihatkan ia salat dan melempar uang koin dua kali sebelum memutuskan langkahnya.
“Seakan bimbang, mencari petunjuk mau bunuh atau tidak, koin dilempar dua kali, kalau muncul tulisan Rp 500 maka putuskan dibunuh,” ujar Kanit Pidum Polres Loteng Ipda Ferdinan Martin di sela-sela reka adegan, Kamis (10/12).
Pada adegan kesepuluh Belo membeli potasium di warung milik saksi Laili Mustika. Selanjutnya ia membeli dua botol air mineral untuk mencampur racun pada adegan ke-12.
Setelah itu Belo menemui korban dan meminta korban meminum campuran racun tersebut dengan alasan air sumpah dari tokoh agama untuk membuktikan siapa yang mencuri ponsel miliknya. Yakin tidak bersalah, korban tanpa ragu meminumnya.
Usai meneguk air sumpah, korban berkumpul dengan beberapa saksi. Ia mengaku air tersebut terasa manis tetapi pahit seperti rebusan daun sirih. Tak lama kemudian korban kejang-kejang hingga warga panik.
Mirisnya, Belo dari dalam rumah ternyata menyaksikan korban kejang. Adegan ini memicu kemarahan keluarga korban yang hadir sehingga sempat terjadi ketegangan antara petugas dan warga.
Puluhan emak-emak menangis histeris tak kuat melihat adegan yang menimpa keluarga mereka. Beruntung Belo segera diamankan aparat sehingga situasi kembali kondusif sampai massa membubarkan diri.
Kanit Pidum Polres Loteng Ipda Ferdinan Martin menegaskan rekonstruksi dilakukan di halaman Mapolres untuk menjaga kamtibmas. Di lokasi kejadian masih ada gesekan dari pihak keluarga yang belum menerima peristiwa tersebut.
“Yang mana itu memang berkaitan dengan kamtibmas maka kami lakukan di Polres Loteng,” katanya.
Editor : Siti Aeny Maryam