LombokPost-Jalan raya pariwisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika tertutup lumpur setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sepanjang hari, Sabtu (27/12).
Lumpur berwarna merah kecokelatan terbawa dari perbukitan di sekitar jalan dan menumpuk di sejumlah titik, menutupi sebagian badan jalan.
PGS General Manager The Mandalika Agoes Setiawan membenarkan kondisi tersebut. Pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara menyusul banyaknya limpahan lumpur dari perbukitan yang berada tepat di depan Sirkuit Internasional Mandalika.
“Arus lalu lintas sudah dialihkan, sore ini dilanjutkan dengan penyemprotan jalan dengan mobil Damkar dan mobil tangki air,” singkatnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Lombok Tengah Murdani mengatakan, pemulihan perbukitan di sekitar KEK Mandalika sudah mendesak dilakukan. Pemerintah daerah diminta bertindak tegas terhadap masyarakat dengan memperjelas lahan yang harus tetap terjaga sebagai hutan, pertanian, dan permukiman.
“Seperti yang terjadi luapan air pada Jurang Pepe di Kuta, lokasi ini kan penyangga air di sekitar kawasan. Jika berubah fungsinya maka kita dalam waktu dekat akan melihat dampak kerusakan yang lebih serius,” terangnya.
Murdani menuturkan, berdasarkan hasil diskusi dewan bersama Dinas PUPR, deviasi atau penyimpangan tata ruang di Lombok Tengah pada 2018 tercatat cukup tinggi, mencapai 39 persen.
“Itu tahun 2018, artinya tahun ini bisa jadi dua kali lipat, 78-80 persen penyimpangan ruang yang terjadi,” kata politisi NasDem ini.
Melihat kondisi tersebut, ia menilai revisi peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus dipercepat.
Perubahan struktur ruang yang terjadi dinilai penting menjadi pijakan dasar dalam pengambilan perizinan pembangunan.
“Cuaca ini kan tidak bisa kita prediksi, tapi sisi lain terjadi penyimpangan ruang sangat signifikan, karena itu perlu dipersiapkan RTRW yang lebih bagus. Setidaknya ketika ada cuaca ekstrem, kita memiliki standar minimal untuk mengendalikan dampak lingkungannya,” terang Murdani.
Pantauan Lombok Post pada waktu kejadian, kondisi tersebut membuat permukaan jalan licin dan membutuhkan penanganan cepat agar aktivitas masyarakat dan wisatawan tetap aman.
Sejumlah alat berat diturunkan ke lokasi untuk membersihkan tumpukan lumpur yang menghambat akses.
Petugas terlihat mengeruk sisa lumpur agar jalan kembali dapat dilalui dengan nyaman. Meski sebagian ruas sempat ditutup selama proses pembersihan, arus lalu lintas terpantau tetap berjalan lancar dengan pengaturan buka tutup dari petugas di lapangan.
Rizal, salah satu warga setempat, mengatakan genangan air dan lumpur mulai terjadi sekitar pukul 14.00 Wita.
Genangan awal terlihat di depan Polsek Kawasan Mandalika. Air menjalar ke badan jalan sehingga pengendara terpaksa menurunkan kecepatan.
Bergeser ke arah timur, tepatnya di depan Money Changer Kuta Mandalika, genangan tampak lebih besar. Di lokasi ini, arus air terasa lebih deras karena aliran langsung turun dari perbukitan menuju aspal jalan.
Lokasi terparah berada di sisi timur jalan bypass Kuta, tepatnya di sebelah kanan bundaran Hotel Pullman Lombok.
Ruas jalan tersebut terpaksa ditutup sementara sehingga pengendara hanya dapat melintas melalui satu jalur.
Alus Darminah, warga lainnya, menambahkan air yang memenuhi badan jalan berasal dari perbukitan yang dikeruk.
Namun, air tidak sampai menggenangi atau masuk ke rumah warga. “Alhamdulillah tidak ada yang menggenangi rumah warga,” katanya,
Editor : Kimda Farida