LombokPost - Gebrakan strategis untuk memperkuat ekonomi di wilayah Indonesia Timur resmi dimulai dari ujung barat Pulau Flores.
Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah turut menghadiri agenda penting Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Regional Bali, NTB, dan NTT (KR-BNN) yang digelar di The Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (28/1).
Langkah kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya telah diteken di Sirkuit Mandalika.
Kerja sama ini mengusung misi besar untuk mengintegrasikan potensi tiga provinsi dalam satu kesatuan ekonomi yang disebut sebagai "Golden Triangle" Indonesia Timur.
Wabup Nursiah menegaskan bahwa bagi Lombok Tengah, sinergi ini adalah peluang emas untuk memperkuat konektivitas pariwisata antara Mandalika dan Labuan Bajo.
"Kita tidak ingin lagi berjalan sendiri-sendiri. Dengan PKS ini, ada lima prioritas strategis yang dicanangkan, mulai dari pariwisata, konektivitas transportasi, pembangunan, hingga penguatan energi bersih," ungkap Nursiah.
Penandatanganan ketiga gubernur tersebut menandai dimulainya fase implementasi nyata.
Lombok Tengah, kata Wabup Nursiah, sebagai salah satu penyangga utama pariwisata di NTB melalui KEK Mandalika, dipastikan akan mengambil peran kunci dalam koordinasi transportasi laut dan udara yang menghubungkan Bali dan NTT.
Kehadiran orang nomor dua di Gumi Tatas Tuhu Trasna ini juga menunjukkan komitmen kuat Pemkab Lombok Tengah dalam mendukung integrasi pasar UMKM dan investasi di tingkat regional.
Dengan ditekennya PKS ini, diharapkan hambatan logistik dan birokrasi antar-provinsi dapat dipangkas demi pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di wilayah Sunda Kecil.
Sebagai informasi pada pertemuan ketiga ini, ketiga provinsi memasuki tahap konsolidasi dan penguatan implementasi kerja sama lintas sektor yang lebih konkret.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan, bahwa kerja sama regional Bali–NTB–NTT telah bergerak dari sekadar niat dan komitmen politik menuju realisasi yang mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi kawasan ini menjadi contoh regionalisme baru yang tumbuh dari daerah untuk menjawab tantangan nasional dan global.
“Kerja sama ini bukan lagi wacana. Kita sudah melihat dampak nyata, salah satunya dari penguatan konektivitas. Jumlah rute penerbangan dari dan menuju NTB meningkat dari 18 menjadi 27 rute. Ini menunjukkan bahwa integrasi kawasan Bali–NTB–NTT sudah berjalan dan terus berkembang,” ujar Gubernur.
Dalam pertemuan tersebut, para Kepala Perangkat Daerah dari Bali, NTB dan NTT menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama teknis sebagai turunan dari MoU yang mencakup lima bidang strategis, yakni:
- Optimalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif terintegrasi,
- Pengembangan super grid energi terbarukan kawasan,
- Penguatan perdagangan dan ekspor antarprovinsi,
- Pengembangan sistem transportasi dan konektivitas laut, penyeberangan, dan udara, serta
- Integrasi perencanaan pembangunan regional.
Melalui kerja sama regional Bali–NTB–NTT, ketiga provinsi sepakat untuk mengakhiri pola pembangunan yang bersifat parsial.
Ketiganya akan bergerak bersama membangun kawasan Bali–Nusra sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur, berdaya saing nasional dan internasional serta berorientasi pada kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Editor : Marthadi