Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemkab Loteng Evaluasi Efek Sirkuit Mandalika

Lestari Dewi • Sabtu, 23 Mei 2026 | 10:24 WIB
Sejumlah mobil balap yang akan bersiap balapan dalam ajang GT World Challenge Asia 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Minggu (3/5) lalu. (Dewi/Lombok Post)
Sejumlah mobil balap yang akan bersiap balapan dalam ajang GT World Challenge Asia 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Minggu (3/5) lalu. (Dewi/Lombok Post)

 

LombokPost-Pemkab Lombok Tengah (Loteng) mulai mengevaluasi dampak sosial dan ekonomi keberadaan Sirkuit Internasional Mandalika.

Evaluasi ini dilakukan untuk memastikan megaproyek sport tourism itu benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat di lingkar sirkuit.

Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri mengungkapkan, pemkab tidak ingin masyarakat, khususnya masyarakat di lingkar sirkuit, seperti Desa Kuta, Sengkol, hingga Mertak, hanya menjadi penonton. Pembangunan ini harus linier dengan peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Kita semua bisa melihat berapa banyak pelaku UMKM yang bergerak dari sisi ekonomi, apalagi hampir setiap bulan ada kegiatan (di sirkuit). Sehingga ekonomi masyarakat di desa-desa penyangga, terutama Desa Kuta menjadi naik,” ungkap Bupati Pathul pada wartawan, Jumat (22/5).

Baca Juga: Baru Sepekan Digembok, Gerai Alfamart dan Indomaret Langgar Aturan Jarak Buka Lagi, Satpol PP Loteng Langsung Bertindak

Pemkab Loteng, kata bupati, juga merasakan keberadaan sirkuit. Ketika ada event balap yang digelar tiga hingga empat hari, pemkab akan memperoleh pajak dan retribusi. Baik dari penyelenggaraan event, maupun hotel-hotel berbintang di dalam dan sekitar kawasan yang selalu terisi penuh.

“Misal pada ajang MotoGP kita akan dapat pajaknya. Lain lagi pada pajak hotel dan restoran yang berdampak positif,” ucap politisi Gerindra ini.

Dari aspek sosial, Pemkab Loteng mengamati adanya pergeseran pola hidup masyarakat yang sangat cepat. Transformasi dari masyarakat agraris dan nelayan menjadi masyarakat industri jasa pariwisata memicu terjadinya kegagapan budaya, terutama di kalangan generasi muda.

Baca Juga: Bupati Lombok Tengah Janji Segera Perbaiki Jalan Wisata Kuta

Di sisi lain, bupati tidak menampik persoalan sengketa lahan lama di atas Hak Pengelolaan Lahan (HPL) InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) masih menjadi riak sosial yang membayangi kondusivitas kawasan.

Sebab itu, langkah persuasif dan transparan mulai diambil pemkab untuk mengurai benang kusut ini.

Terpisah, Direktur Operasi ITDC Troy Reza Warokka menyampaikan, selain MotoGP, salah satu event yang turut menyumbang dampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal adalah GT World Challenge Asia pada awal bulan lalu.

Okupansi hotel selama tiga hari penyelenggaraan mencapai 86 persen.

“Tingginya okupansi itu memperlihatkan event internasional mampu mendongkrak perekonomian, kuliner, transportasi, akomodasi dan aktivitas ekonomi masyarakat lokal,” katanya.

Ajang ini juga melibatkan 402 tenaga kerja lokal sebagai tenaga pendukung, marshal, race control, hingga tim medis.

Kemudian, melibatkan 250 orang dalam opening ceremony, hingga menghadirkan 17 pelaku UMKM yang menyediakan produk dan kuliner selama balapan.

Baca Juga: IMI dan MGPA Incar Asian Le Mans Series Mengaspal di Sirkuit Mandalika

“Tingginya animo masyarakat yang datang menonton hingga 12.522 orang menunjukkan The Mandalika semakin kuat sebagai destinasi sportainment unggulan Indonesia yang mampu menghadirkan pengalaman motorsport kelas dunia,” kata dia. 

Editor : Kimda Farida
#dampak sosial ekonomi #Pemkab Lombok Tengah #evaluasi #Lalu Pathul Bahri #Sirkuit Internasional Mandalika