LombokPost--Forum Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama Pemkab Lombok Tengah (Loteng) resmi meluncurkan program kolaboratif penanganan stunting bertajuk “Praya Timur Bebas Stunting” di Kantor Desa Kidang, Kecamatan Praya Timur, Rabu (3/5).
Kegiatan yang dirangkai dengan cek kesehatan gratis dan santunan kepada anak yatim serta balita stunting ini dihadiri ketua TP PKK NTB, Bupati Loteng H Lalu Pathul Bahri, jajaran RS Mandalika, seluruh kepala puskesmas, serta pengelola SPPG yang beroperasi di wilayah Kecamatan Praya Timur.
Program ini menjadi yang pertama dilaksanakan di Loteng dan ditetapkan sebagai pilot project penanganan stunting berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan mitra SPPG.
Pathul mengatakan, stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan sumber daya manusia yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah daerah menyambut baik inisiatif Forum Mitra SPPG yang fokus pada upaya pencegahan sejak dini.
Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha hingga masyarakat.
Baca Juga: Usai Diperiksa Penyidik, Wamen Imipas Silmy Karim Keluar Kenakan Rompi Oranye Tahanan KPK
Program ini menjadi langkah strategis untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan berkualitas
"Melalui sinergitas dan kolaborasi dari mitra lalu kemudian dari KSPPG itu bersama pemerintah bisa kita evaluasi bareng, menghasilkan apa dan seperti apa. Kita yakin pasti maksimal ini,” terangnya.
Menurutnya, fokus program yang menyasar balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (B3) ini merupakan langkah yang tepat karena periode tersebut menjadi fase penting dalam pencegahan stunting.
"Khusus sasaran B3 ini sudah tepat tidak dari MBG Itu, sembari melihat lebih dekat kondisi stunting dan kita evaluasi di tiga bulan kedepannya," ujarnya.
Lebih lanjut, demi mengoptimalkan program ini, bupati juga menginstruksikan seluruh kader posyandu di daerah untuk terlibat aktif melakukan intervensi balita stunting.
Pihaknya yakin, jika intervensi dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia balita terlebih melibatkan SPPG di daerah, maka peluang menekan angka stunting akan jauh lebih besar.
"Berhubung data B3 sudah diserahkan oleh dinas kesehatan, maka cikal bakal kegiatan inilah nantinya di Kecamatan Praya Timur ini yang kita bawa ke Kabupaten dengan menghadirkan seluruh kader posyandu yang berjumlah 9 ribu orang," katanya.
Secara garis besar kata Pathul, pemerintah daerah akan terus mendukung program-program yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya penanganan stunting yang diketahui data penderita stunting di Lombok tengah terus mengalami trend penurunan.
"Sekarang jumlah stunting kita 9,7 persen yang tadinya kita berangkat dari 23 persen, dari total jumlah balita yang ada," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Mitra SPPG Kecamatan Praya Timur Lalu Suparlan, menjelaskan bahwa program “Praya Timur Bebas Stunting” diinisiasi oleh Forum Mitra sebagai model penanganan stunting yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp 17.900 Per Dolar AS, USD Makin Diburu untuk Investasi
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat 10 SPPG yang telah beroperasi di Kecamatan Praya Timur. Dari total sekitar 25 ribu penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terdapat sekitar 5.000 sasaran prioritas yang terdiri dari balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang akan menjadi fokus utama intervensi pencegahan stunting.
"Sesuai dengan tujuan program ini adalah mempercepat program pemerintah menangani stunting, baik yang terdampak maupun untuk mencegah, dari balita, ibu hamil dan menyusui, harapannya program ini bisa kita kerjakan dengan bantuan dari pemerintah sendiri yang akan membimbing dan menuntun kita dari mitra” kata Suparlan.
Menurutnya, keberadaan SPPG tidak hanya berperan dalam mendukung program MBG, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan gizi masyarakat di tingkat desa.
"Praya Timur kami jadikan titik awal. Jika hasilnya baik dan efektif, model ini bisa direplikasi menjadi Pilot Project di kecamatan lain di Loteng bahkan daerah lain di NTB,” ujarnya.
Suparlan menambahkan, program tersebut akan dievaluasi secara berkala bersama pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan setiap intervensi berjalan tepat sasaran hingga menargetkan zero stunting di daerah.
Dengan begitu, pihaknya juga akan terus berkomitmen dalam menyediakan makanan yang bersih dan sehat, memiliki kualitas dan mutu yang baik serta sesuai dengan standar gizi yang ideal untuk para penerima manfaat.
"Targetnya seperti target pemerintah bagaimana stunting ini bisa tuntas, nanti kan ada evaluasi setiap 2 bulan atau 3 bulan, dan apakah nanti ada perubahan apalagi yang kita lakukan yang baru supaya lebih cepat selesainya stunting ini," tegasnya.
Peluncuran program ini sekaligus menjadi komitmen bersama seluruh pihak untuk memperkuat upaya percepatan penurunan stunting di Loteng melalui pendekatan kolaboratif yang berfokus pada pemenuhan gizi dan kesehatan ibu serta anak.
Dengan dukungan 10 SPPG yang telah beroperasi di Praya Timur dianggap telah cukup untuk melakukan intervensi penanganan stunting di kecamatan. Program ini diharapkan mampu menjadi contoh penanganan stunting yang efektif dan berkelanjutan di tingkat daerah.
"Harapan kami sinergitas bersama pemerintah daerah supaya bagaimana caranya apa yang menjadi target seluruh pihak bisa tercapai," pungkasnya.
Editor : Kimda Farida