Tanggap Darurat Sade Diperpanjang hingga 19 September

Lestari Dewi • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:05 WIB
PERPANJANG TANGGAP DARURAT: Warga Dusun Sade mulai membangun kerangka rumah adat mereka pascamusibah kebakaran. Pemkab Loteng memperpanjang masa tanggap darurat Sade dari tanggal 7-19 September 2026.
PERPANJANG TANGGAP DARURAT: Warga Dusun Sade mulai membangun kerangka rumah adat mereka pascamusibah kebakaran. Pemkab Loteng memperpanjang masa tanggap darurat Sade dari tanggal 7-19 September 2026.

 

LombokPost - Pemkab Lombok Tengah (Loteng) memperpanjang masa tanggap darurat pascamusibah kebakaran yang melanda Desa Wisata Adat Sade.

Kebijakan perpanjangan dari 7 hingga 19 September itu difokuskan untuk mempercepat proses pemulihan serta perbaikan infrastruktur di kawasan wisata ikonik itu.

Kepala Pelaksana BPBD Loteng Ridwan Macruf mengungkapkan, penanganan darurat fase awal sebenarnya telah berakhir pada 5 September.

Namun, perpanjangan masa tanggap darurat dilakukan untuk memastikan masa transisi menuju rekonstruksi dan revitalisasi Desa Wisata Sade dapat berjalan secara matang dan terencana.

“Masa penanganan darurat sebenarnya sudah selesai. Perpanjangan untuk persiapan pemulihan dan perbaikan,” tegas Ridwan di sela-sela kegiatan Rapat Koordinasi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Loteng di Swiss-Belcourt Lombok, Kamis (10/9).

Baca Juga: Rekonstruksi Lambat, Warga Sade Bangun Hunian Mandiri

Guna mendukung percepatan pemulihan di tingkat tapak, pengelolaan penyaluran logistik bantuan bagi warga dan pelaku pariwisata terdampak kini resmi dialihkan kepada pemerintah desa setempat. BPBD memastikan stok bahan pangan dan kebutuhan pokok masyarakat masih sangat mencukupi.

“Sangat cukup,” cetusnya.

Sementara itu, untuk menjaga dinamika kawasan wisata dan aktivitas warga, BPBD tidak mendirikan tenda pengungsian terpusat. Sebagian besar warga memilih bertahan di rumah kerabat terdekat sembari mulai mempersiapkan pembangunan kembali rumah adat dan lapak usahanya secara mandiri.

“Perpanjangan masa tanggap darurat ini penting untuk menyelaraskan skema penanganan dan desain rekonstruksi agar tidak bertabrakan dengan rencana dari pemerintah pusat maupun daerah,” tambah Ridwan.

Melalui forum itu, dia berharap antisipasi pengurangan risiko bencana terus ditingkatkan, mengingat potensi bencana cukup tinggi di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Salah satunya bencana kebakaran di destinasi wisata sehingga akses penanganan bencana sangat perlu diperhatikan.

Baca Juga: Menyingkap Makna Ritual Nyemulak di Desa Wisata Sade Lombok Tengah

“Bukan hanya cepat menangani, tapi bagaimana mengurangi dampak bencana kemudian hari,” kata dia.

Merespons musibah itu, Ketua FPRB Loteng Rahmat Sabani menegaskan pentingnya mendorong Desa Wisata Sade menjadi kawasan yang tangguh bencana ke depan.

Langkah itu diharapkan dapat memacu kebangkitan Desa Adat Sade agar siap kembali menyambut wisatawan dengan tetap mempertahankan kelestarian arsitektur dan budaya khas Suku Sasak.

“Lokasi-lokasi destinasi wisata lain pun demikian,” katanya. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
pemulihan Percepatan tanggap darurat Desa Wisata Sade perpanjangan