LombokPost-Festival telah menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Dengan semakin banyaknya acara budaya, musik, dan kuliner yang digelar, dampak positif terhadap sektor ekonomi lokal semakin terasa.
Karisma Event Nusantara Festival Rimpu Mantika Tahun 2025 memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan ekonomi pelaku UMKM, seperti penenun dan pengrajin lokal meraup pendapatan lebih.
Baca Juga: Pengecatan Grade Sirkuit Mandalika Dilakukan Malam Hari Demi Persiapan GT World Challenge Asia 2025
Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya penjualan pelaku UMKM yang menjual beragam sarung, tenunan khas Bima, sarung Nggoli, kuliner dan olahan kreativitas produk lokal yang dikemas dengan baik.
Selain itu, festival Rimpu Mantika juga membuka peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Banyak pedagang lokal yang memanfaatkan momen ini untuk menjajakan produk mereka, baik dalam bentuk makanan, kerajinan tangan, maupun suvenir khas daerah. Dengan meningkatnya permintaan, omset para pelaku usaha ini pun ikut terdongkrak.
Salah satu pelaku UKM Dina di Kelurahan Ntobo, Yuyun Ahdiyanti mengatakan jualannya meningkat dari awal April dan membuka stan dalam Festival Rimpu Mantika. Efek perayaan HUT Kota Bima dan Festival Rimpu sangat dirasakannya. Aneka produk tenun, seperti Sarung Nggoli dan bahan tenun meningkat dibanding Festival Rimpu tahun sebelumnya.
"Alhamdulillah, sebulan ini baik yang dijual di UKM saya di Ntobo maupun di stan event yang disiapkan sudah terjual hampir seribu lembar bahan tenun maupun sarung Nggoli. Sarung Nggoli telah terjual sebanyak 662 lembar, sedangkan bahan tenun lebih dari 300 lembar," ungkap Yuyun.
Pemilik UKM Dua Putri asal kelurahan Rabadompu Barat, M. Saleh mengaku penjualannya meningkat pada festival Rimpu Mantika tahun ini. "Alhamdulillah penjualan saya meningkat tahun ini. Sarung Nggoli terjual 200 lembar, bahan tenun 250 lembar, sarung jadi 50 lembar, baju siap pakai berbahan tenun 15 lembar, sambolo (pengikat kepala) 400 lembar dan sal 150 lembar," sebutnya.
Baca Juga: Pemda KLU Hidupkan Kembali Program Jubah, Sasar Rumah Tidak Layak Huni Warga
Tidak hanya pelaku UKM asal Kota Bima, UKM Tenun Bima Shanty asal Desa Tonggorisa, Kabupaten Bima ini juga mengaku penjualan kain tenun khas Bima meningkat.
"Selain membuka jualan di stan event ini, saya juga membuka jualan secara online di rumah. Selama bulan April ini saja, Sarung Nggoli terjual 100 lembar, bahan tenun Galendo 23 lembar, dan Songket Renda 8 lembar," pungkasnya. (gun/r5)
Editor : Jelo Sangaji