LombokPost - Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Amar Nurmansyah menegaskan peran adat ikut mendukung pembangunan daerah.
''Kehidupan dalam lingkungan kesultanan Sumbawa mencerminkan kuatnya marwah Tau dan Tana Samawa yang patut dijaga bersama,'' kata bupati saat menghadiri dzikir dan doa bersama di Istana Bala Kuning dalam rangka peringatan 15 tahun Penobatan sekaligus Malikelis ke-85 Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV.
Menurutnya, identitas sebagai Tau Samawa adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab moral.
Baca Juga: SILPA Rp 1,1 Triliun Akan Dialokasikan untuk Program Prioritas Pemda KSB
Meski secara administratif Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat terpisah, keduanya tetap berada dalam satu ikatan adat dan sejarah yang sama, yakni Kesultanan Sumbawa.
''Dalam satu dekade awal pembangunan, KSB telah meletakkan fondasi peradaban yang kuat berbasis nilai-nilai adat dan keagamaan yang dianut masyarakat tau Samawa,'' tegasnya.
Sebagai Bupati KSB, Amar mengaku bersyukur karena dalam 10 tahun awal periode pemerintahan KSB telah diletakkan fondasi peradaban fitrah.
Baca Juga: Diskominfo KSB Tegaskan Pemda KSB Jamin Keterbukaan Informasi
Peradaban itu tidak lepas dari nilai yang diambil ikatan adat, falsafah bersendika syara, syara bersendi kitabullah. ''Ini sudah tertanam dalam jiwa masyarakat KSB,'' ungkapnya.
Amar juga menceritakan perjalanan pembangunan di Sumbawa Barat. Termasuk nilai gotong royong atau basiru. Hal ini menjadi penguat utama.
''KSB menjadi daerah pertama yang memformalkan nilai gotong royong dalam bentuk peraturan daerah sebagai bagian dari arah pembangunan,'' akunya.
Baca Juga: Silpa Jadi Penyelamat Pemda KSB di Tengah Efisiensi Anggaran
Tradisi-tradisi lokal seperti bakalewang dan basanata tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan pembangunan daerah.
''Sekarang maupun ke depan, tantangan bagi generasi saat ini jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya,'' bebernya.
Tantangan itu antara lain munculnya berbagai persoalan sosial seperti judi online dan prostitusi daring yang menjadi ancaman nyata bagi generasi muda. ''Ini kenapa pentingnya pendekatan yang berakar pada nilai adat dan agama sebagai benteng utama,'' harapnya.
Generasi tau Samawa ke depan diperlukan pendekatan yang berpegang pada adat dan istiadat. Ini akan menjadi benteng bagi mereka, sesuai dengan prinsip adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah. ''Prinsip ini harus tetap dipegang teguh masyarakat Tau Samawa, baik KSB maupun Sumbawa,'' tambahnya.
Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menekankan pentingnya menjadikan titah Sultan sebagai pedoman dalam menjaga marwah Tau Samawa serta memperkuat persatuan di tengah arus modernisasi.
''Penting juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam melalui nilai-nilai kearifan lokal seperti Mole Pade Antap, Balong Ai Kayu, dan Telas Kebo Jaran yang sejalan dengan visi pembangunan berkelanjutan,'' katanya. (far/r5)
Editor : Redaksi