LombokPost-Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dr Carlof menegaskan akreditasi Puskesmas tidak boleh dipandang hanya sebagai proses penilaian untuk memperoleh status atau sertifikat.
Menurutnya, akreditasi merupakan instrumen penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Akreditasi adalah instrumen perbaikan mutu yang harus mampu mengubah cara kita bekerja, meningkatkan keselamatan pasien, memperkuat tata kelola, dan memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas, mudah diakses, serta berorientasi pada kebutuhan mereka," kata Carlof saat memimpin rapat monev program perbaikan strategis akreditasi Puskesmas se-KSB, beberapa hari lalu.
Baca Juga: Bupati KSB Ancam Cabut Izin Pangkalan Nakal, Sentil ASN Masih Pakai Elpiji 3 Kg
Dia mengapresiasi seluruh kepala Puskesmas beserta jajaran yang dinilai telah bekerja keras mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan. Meski demikian, Carlof mengingatkan seluruh Puskesmas agar tidak cepat berpuas diri.
Tantangan pelayanan kesehatan saat ini semakin kompleks, mulai dari pelaksanaan transformasi kesehatan, Integrasi Layanan Primer (ILP), digitalisasi layanan, pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM), percepatan penurunan stunting, pengendalian penyakit menular dan tidak menular, hingga pelaksanaan Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis.
"Seluruh tantangan tersebut membutuhkan Puskesmas yang memiliki sistem manajemen yang kuat dan budaya mutu yang terus berkembang," jelas dia.
Baca Juga: Kekeringan di NTB Terus Meluas, KSB dan Lobar Tetapkan Status Siaga Darurat
Carlof meminta seluruh Puskesmas melakukan evaluasi secara objektif terhadap berbagai capaian maupun kekurangan yang masih ditemukan. Dia menekankan agar setiap persoalan diidentifikasi secara terbuka, dicari akar penyebabnya, kemudian disusun langkah perbaikan yang disertai penanggung jawab dan target pelaksanaan yang jelas.
"Monitoring dan evaluasi juga harus menjadi wadah untuk saling berbagi praktik baik antar-Puskesmas sehingga peningkatan mutu pelayanan dapat berlangsung lebih cepat dan merata di seluruh Kabupaten Sumbawa Barat," ujar dia.
Selain itu, Carlof mengingatkan agar seluruh Puskesmas tidak lagi berorientasi pada kelengkapan dokumen semata dalam menghadapi akreditasi. "Yang lebih penting adalah bagaimana standar akreditasi benar-benar diterapkan dalam pelayanan sehari-hari," tegasnya.
Baca Juga: APBD KSB 2027 Dipatok Minimal Rp 2,299 Triliun, Bupati Kunci Belanja Pendidikan dan Infrastruktur
Budaya keselamatan pasien, pelayanan yang ramah, pengelolaan risiko, pengambilan keputusan berbasis data, serta inovasi pelayanan harus menjadi kebiasaan seluruh tenaga kesehatan.
"Dikes akan terus memberikan pendampingan, supervisi, dan pembinaan secara berkelanjutan kepada seluruh Puskesmas," kata Carlof.
Dia menilai keberhasilan akreditasi sangat ditentukan komitmen kepala Puskesmas dalam membangun kepemimpinan yang adaptif, komunikasi tim yang efektif, serta budaya kerja yang disiplin, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil.
"Saya mengajak seluruh kepala Puskesmas menjadikan hasil monitoring dan evaluasi sebagai dasar melakukan perbaikan nyata, bukan sekadar memenuhi kewajiban administrasi," tegasnya.
Dia optimistis, melalui kolaborasi dan komitmen seluruh jajaran, Puskesmas di KSB mampu mempertahankan bahkan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan mendukung transformasi sistem kesehatan nasional. "Mari kita hadirkan pelayanan kesehatan primer yang semakin profesional dan berorientasi pada kepuasan masyarakat," tandas dia.
Editor : Jelo Sangaji