“Sudah buat kandang, sapinya tak kunjung datang,” kata Amaq Senimah, warga Lingkungan Gunung Sepang Lauk, Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Senin (7/6).
Sinemah merupakan satu dari puluhan ribu warga Lotim yang harus membuat kandang sebagai syarat menjadi penerima program penggemukan sapi tersebut. Biaya yang dikeluarkan untuk membuat kandang sapi berukuran 5x3 meter itu Rp 1,5 juta. Belum lagi biaya membuat pagar area dari kayu dan bambu.
Karena sudah hampir tujuh bulan sapi tak kunjung datang, Amaq Sinemah terpaksa harus merusak atap kandang sapinya. “Saya gunakan sebagai atap traktor dulu saja,” ujarnya.
Ia berharap, pihak yang menjanjikan program tersebut segera merealisasikan janjinya. Sebab kandang sapi yang telah dibuat tak bisa dijadikan apa-apa. Bagi Amaq Sinemah, uang Rp 1,5 juta sangat besar. “Kalau sapinya datang, atap tinggal saya pasang,” tuturnya dalam bahasa Sasak.
Menurut Amaq Sinemah, ia tak sendiri. Beberapa warga lainnya di seputar Kecamatan Selong juga mengalami nasib serupa dengannya. Bahkan banyak juga yang membuat kandang lebih besar dan terpaksa dirusak.
Sekretaris DPD HKTI NTB Iwan Setiawan menerangkan, realisasi program tersebut sampai saat ini masih terkendala pandemi Covid-19. Terutama ketatnya protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah Australia.
Sejauh ini, HKTI NTB sudah melaksanakan seluruh kewajibannya sesuai klausul perjanjian kerja sama dengan mitra PT Karya Hoki dan PT Mineral Energi Mulya dan juga Kementan RI.
“Tinggal kita menunggu langkah perusahaan untuk mendatangkan sapi ini,” jelasnya.
Selain itu, 15 dokter hewan dari Indonesia yang dikirim untuk memeriksa sapi yang akan dikirim dari Australia juga belum bisa masuk ke Negeri Kanguru itu. Kata Iwan, karena sebelum masuk ke Indonesia, sapi ini harus diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan dari Indonesia.
Adapun peternak Lotim yang sudah mendaftarkan diri di program ini sebanyak 25 ribu orang. “Ada yang kelompok dan individu,” jelas Iwan.
Ia menegaskan, sambil menunggu program tersebut, pihaknya membantu para peternak untuk mendapatkan kuota KUR sapi dalam program Berkembang Lotim. “Jadi tidak ada kandang yang sia-sia. Karena yang sudah membuat kandang kita prioritaskan menjadi penerima KUR tanpa bunga,” terangnya.
Ditanya mengenai kepastian realisasi program tersebut, Iwan mengatakan pesimis melihat sapi itu bisa datang tahun ini. “Sepertinya akan cukup sulit. Program haji saja ditunda, apalagi sapi,” tambahnya.
Program HKTI NTB ini memang cukup menggiurkan. Terutama manfaat yang akan dirasakan peternak penerima program tersebut. Di awal launching program ini, DPD HKTI NTB menjelaskan program tersebut sebagai program 10 juta sapi. Besaran sapi tersebut merupakan kuota impor dan ekspor PT Karya Hoki dan PT Mineral Energi Mulya.
Sistemnya, peternak penerima program akan diberikan sapi Brahman Australia untuk digemukkan. Dalam 3-4 bulan diternak, sapi akan ditimbang. Selisih berat saat diterima dengan saat ditimbang sepenuhnya menjadi keuntungan peternak. Kisaran harga sapi hidup per kilogram Rp 55 ribu.
Syarat menjadi penerima program juga cukup mudah. Mulai dari mengisi formulir, foto copy KTP, ketersediaan kandang, air bersih dan pakan, dan foto kandang. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita