Pengelolaan tersebut telah dicanangkan sejak 2020 lalu. Selama 2021, pihaknya melakukan uji coba. Hasil dari percobaan tiketing masih jauh dari harapan. Namun dirasa potensial menyusul penambahan fasilitas wisata yang secara bertahap akan dilakukan.
Pengelolaan tersebut bekerjasama dengan kelompok sadar wisata pantai Gili Lampu. Kata Mugni, tiket per orang sebesar Rp 5 ribu dengan pembagian 40 persen ke pengelola dan 60 persen ke Dispar Lotim.
Sejak 2020 lalu, Dispar Lotim telah membangun sarana penunjang wisata berupa lima buah gazebo. Wisata pantai gili lampu sendiri ada dua titik jika dilihat dari pintu masuk ke wisata gili kondo, gili bidara, dan gili petandan.
“Saat ini, yang baru kita kelola adalah pintu masuk satu yang di pos angkatan laut,” jelasnya.
Sementara itu, untuk pantai Gili Lampu lainnya sebagai pintu masuk penyeberangan kedua rencana akan menyusul untuk dikelola. Menurutnya, pada 2021 lalu, hasil retribusi dari tiketing di gili lampu memang belum seperti apa yang diharapkan.
Hal itu terkendala oleh adanya pembatasan destinasi wisata di tengah pandemi Covid-19. “Jika normal, tentu hasilnya akan lebih maksimal,” tutur Mugni.
Dalam pengelolaan, anggaran juga menjadi salah satu kendala. Di mana penambahan fasilitas saranan prasarana sejauh ini hanya didapatkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Tapi itu pun terbatas. “Maksimal 3 destinasi per tahun,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita