----
Beberapa menit menjelang azan magrib, puluhan muda-mudi dari Kelurahan Pancor dan sekitarnya memilih menunggu fajar terbenam di Ruang Terbuka Publik (RTP) Pancor. Kendati RTP tersebut belum sepenuhnya jadi, dan bahkan belum diserahterimakan ke pemerintah Kabupaten Lombok Timur, tempat itu sudah bisa dinikmati warga sekitar.
“Dari pada tidak bisa kita kontrol, kami berinisiatif membuat bazar makanan setiap sorenya di sini,” kata Lurah Pancor Lalu Ridho Arindi pada Lombok Post, kemarin (12/4/).
Tempat itu memang menjadi pilihan baru bagi muda-mudi untuk ngabuburit atau menunggu azan magrib tiba. Menurut Ridho, berdasarkan pantauannya, karena di malam harinya masih gelap, RTP Pancor memang sangat potensial untuk dijadikan tempat nongkrong muda-mudi yang kemungkinan melakukan hal-hal negatif.
Karena itu, untuk menyiasati kondisi tersebut, pihaknya bersama beberapa tokoh masyarakat dan agama bersepakat untuk menghidupkan taman yang dibangun dengan anggaran sebesar Rp 2,5 miliar itu.
Salah satu yang terbersit di benaknya adalah mematikan tempat itu ramai dikunjungi. Sehingga tidak menjadi tempat sepi yang membuat lokasinya disukai muda-mudi yang hendak melakukan kegiatan negatif. Tercetuslah bazar.
Meski saat ini lapak yang buka baru satu, ia tengah mengupayakan bantuan terop dan tenda stand yang bisa digelar selama bulan suci ramadan di RTP Pancor. “Jika ramai, tentu akan menjadi hal positif. Di mana ada pedagang juga yang mendapat manfaat dari adanya bazar tersebut,” tutur Ridho.
Salah seorang pemuda warga Kecamatan Suralaga Azhari mengaku tertarik dengan RTP Pancor. Karena itu, ia mengajak teman-temannya untuk menikmati suasana ngabuburit di sana. “Karena baru sih. Jadi ingin merasakannya saja,” jelas Azhari. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita