“Tukik ini awalnya ditemukan salah seorang penjaga malam kami pada Senin dini hari (30/5) lalu,” ujar direktur pengelola Sunrise Land Lombok Qori’ Bayyinaturrosyi.
Penjaga destinasi wisata tersebut kemudian berinisiatif menyisir lokasi sekitar pantai untuk mencari lubang tempat menetasnya telur penyu tersebut. Begitu ditemukan, pengelola kemudian melakukan penggalian dan menjumpai puluhan tukik lainnya.
Kata Qori’, saat itu jumlahnya mencapai sekitar 50 ekor. “Saat itu juga kami langsung membantu melepaskannya ke pantai,” jelasnya.
Ternyata 50 tukik yang telah dilepaskan masih menyisakan sepuluh ekor dan beberapa butir telur penyu yang belum menetas di lubang yang sama. Pengelola kemudian mengambil inisiatif untuk menaruh tukik dalam sebuah wadah yang diisi air laut.
Saat itu pihaknya berencana membuat kolam penangkaran penyu. Namun, niatan tersebut diurungkan dengan beberapa pertimbangan. Di antaranya melihat kendala tenaga ahli yang masih minim. Sehingga sepuluh tukik lainnya itu pun dilepaskan juga ke laut.
Sunrise Land Lombok sendiri merupakan destinasi baru yang dikelola berbasis masyarakat. Dahulu destinasi ini dikenal dengan nama taman Labuhan Haji, pantai sepolong. Lalu oleh Qori’ selaku direktur pengelola baru yang merupakan magister kajian pariwisata UGM membranding destinasi wisata tersebut menjadi Sunrise Land Lombok. Qori’ berharap, Sunrise Land Lombok bisa memberikan kesejahteraan hidup bagi masyarakat. “Seperti slogannya, Sunrise Land Lombok. Artinya cahaya kehidupan bermula dari sini,” tuturnya.
Plt Kepala Dispar Lotim Widayat turut hadir melakukan pelepasan tukik tersebut. Dalam kunjungan tersebut, Widayat melihat daya tarik tersendiri yang dimiliki Sunrise Land Lombok.
Ia juga mengapresiasi pengelolaan destinasi wisata yang ada di Labuhan Haji tersebut. “Keberadaan penyu di Sunrise Land Lombok ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan,” ujarnya.
Dosen Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) Tri Kuntoro Priyambodo memberi perhatian khusus terhadapa penemuan tukik di pantai Labuhan Haji. Kuntoro mengemukakan, perlu ada perhatian khusus untuk melakukan konservasi penyu di Sunrise Land Lombok. “Karena ini bisa menjadi daya tarik wisata yang istimewa,” jelasnya.
Lebih jauh, Kuntoro mengatakan telah berkoordinasi dengan pakar penyu yang bisa diterjunkan ke lapangan untuk mendampingi pengelola Sunrise Land Lombok dalam melakukan konservasi penyu. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita