----
Toko milik H Faruk Ma’dan itu tak berubah. Jika ada perbedaan, maka hanya usia bangunan dan juga usia pemiliknya. Tempat itu juga tak lagi menyediakan berbagai mainan anak-anak seperti dulu. Dari luar, kita bisa melihat deretan pancing dan perlengkapannya.
“Ya, bergeser dari mainan anak-anak, saya fokus menjual pancing,” kata H Faruk Ma’dan yang akrab disapa Abah Faruk.
Citra Toys ia rintis pada tahun 90-an. Saat itu belum ada satu pun toko mainan anak-anak yang ada di seputaran Selong dan sekitarnya. Ia memastikan, tokonyalah yang menjual mainan terlengkap di Lotim saat itu. Saking lengkapnya, ia mengenang bagaimana anak-anak setiap pagi buta menunggunya membuka toko.
Abah Faruk membuka tokonya pukul 07.00 Wita dan tutup pukul 22.00 Wita. Saat itu ia memang menjual berbagai macam mainan. Kata dia, setiap hari selalu ada yang terbaru.
Ia mengingat bagaimana mainan pistol-pistolan otomatis berpeluru bulatan plastik kecil. Itu sangat laris dan menjadi buruan semua anak-anak di zaman itu. Penulis koran ini yang tumbuh besar di lingkungan Kelurahan Pancor juga mengenang bagaimana toko itu menjadi buruan anak-anak saat itu.
Abah Faruk tak ingat betul kapan sebenarnya ia mulai. Namun ia mengenang bagaimana ia menambah modal dengan meminjam di bank. Saat itu Rp 25 juta. “Sangat besar untuk ukuran tahun itu,” jelasnya.
Karena tak ada saingan, Citra Toys sangat berjaya di masanya. Hal itu juga yang membuatnya melegenda diingatan anak-anak kelahiran tahun 80-an dan 90-an awal.
Abah Faruk menjelaskan, nama Citra Toys sebenarnya tidak terlalu dikenal. Saat itu, anak-anak lebih mengenal toko mainannya dengan sebutan toko ibu Najah. Ibu Najah adalah istrinya saat itu.
Kini semua tinggal cerita. Abah Faruk menerangkan, usahanya mulai kendor saat muncul banyak pedagang yang mengambil barang langsung dari Jawa. Saat itu juga sudah banyak pedagang mainan yang berkeliling ke sekolah-sekolah. “Dari sana saya pindah haluan ke pancing,” terangnya.
Kendati sudah tak lagi menjual mainan, toko ibu Najah tetap abadi di hati anak-anak yang kini sudah tumbuh dewasa. Kata Abah Faruq, tak jarang ada orang yang datang mencari mainan-mainan lama di tokonya. Beberapa ia simpan. Sebagai kenangan. (*/r5) Editor : Rury Anjas Andita