“Kehadiran pabrik ini merupakan angin segar bagi kami para pembudidaya porang,” kata Ketua Perkumpulan P3N Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lombok Timur Ilham Martahadi pada Lombok Post, Kamis (11/5).
Harga porang mentah dari hasil panen petani saat ini sebesar Rp 4 ribu per kilogram. Kata Ilham, kalau bahan baku tersebut dibeli langsung di petani, harganya bisa lebih rendah sampai Rp 2,5 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh merosot di banding penjualan tahun 2020 lalu. “Saat itu Rp 8 ribu per kilogram,” jelasnya.
Harga yang didapatkan petani saat ini bukanlah nota pabrik. Ilham menjelaskan harga yang didapatkan saat ini merupakan harga suplayer. Di mana mereka mamasok bahan baku sesuai permintaan tertentu dari pabrik yang ada di pulau Jawa. Petani sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk meminta harga yang lebih pantas.
Tanaman porang di Lotim sendiri baru ada di beberapa wilayah kecamatan di Lotim. Beberapa di antaranya adalah Suela, Sembalun, Aikmel, Pringgasela, Masbagik, Sikur, dan sebagian kecil di Jerowaru. “Tanaman porang ini mulai kita budi daya pada 2019,” jelasnya.
Selain dapat menyerap hasil panen petani dengan harga yang lebih menguntungkan petani, petani pegiat porang Lotim juga berharap pabrik porang di Lotim bisa berdiri secara mandiri. “Mandiri bahan baku, mandiri pengelolaan pabrik, dan mandiri hilirisasi pabrik,” jelasnya.
Sayangnya semua itu belum dapat dipastikan. Sampai saat ini pabrik porang di Pringgabaya belum dipastikan akan beroperasi kapan dan berapa taksiran harga yang ditawarkan kepada petani. Kata Ilham, para petani membutuhkan itu segera. Karena saat ini suplayer pabrik dari luar daerah sudah pada berdatangan mencari bahan baku di petani.
“Ini kita tahan-tahan terus petani agar tidak menjual dulu. Tapi kejelasan dari pabrik ini belum ada,” tuturnya.
Plt Kepala Dinas Perindustrian Lotim Lalu Alwan Wijaya menerangkan pabrik porang di Pringgabaya ditargetkan akan beroperasi pada Juni 2023. “Paling lambat Juli,” kata Alwan.
Ia menjelaskan kebutuhan bahan baku porang pabrik adalah 10 ton per hari. Untuk memenuhi kebutuhan itu sendiri, pihaknya telah berkoordinasi dengan P3N Lotim.
Kata Alwan, setidaknya ada 1.500 ton porang yang siap diolah di pabrik tersebut. Jika melihat dari kebutuhan, pabrik porang di Pringgabaya kemungkinan tidak cukup dengan bahan baku dari Lombok Timur saja. Melainkan porang dari petani di pulau Lombok. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita