Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hindari Pajak, Truk MBLB “Nakal” lewati Pos Jenggik Lotim saat Dini Hari

Rury Anjas Andita • Sabtu, 29 Juli 2023 | 16:00 WIB
TERBALIK: Beginilah kondisi truk pengangkut jagung yang terbalik di depan Lapangan Umum Jembatan Kembar, kemarin
TERBALIK: Beginilah kondisi truk pengangkut jagung yang terbalik di depan Lapangan Umum Jembatan Kembar, kemarin
SELONG-Sebagian besar sopir truk pengangkut pasir memilih menghindar dari kewajiban membayar pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Mereka memilih melewati pos perbatasan Jenggik pada saat dini hari.

Pantauan langsung Lombok Post, puluhan truk pengangkut pasir dengan muatan melebihi kapasitas normal melintasi pos perbatasan Jenggik di Desa Jenggik, Kecamatan Terara, Jumat (28/7). Truk-truk tersebut berduyun-duyun melintasi pos perbatasan pada sekitar pukul 03.00 Wita yang saat itu sepi dari penjagaan petugas.

Dugaan tentang adanya siasat melewati pos perbatasan saat dini hari tersebut memang sudah lama diendus oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lotim. Selaku unit yang menjadi garda terdepan membantu Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim dalam memaksimalkan realisasi retribusi MBLB, pos penjagaan dijaga selama 24 jam dengan sistem giliran kerja.

“Kita sudah melakukan uji petik dengan berjaga di sana. Hampir tiga hari berturut-turut. Tapi saat kami turun, tidak ada yang lewat,” kata Kasatpol PP Lotim Slamet Alimin pada Lombok Post.

Kendati demikian, Slamet tidak menyangkal temuan Lombok Post di lapangan. Ia berasumsi, jika ada kemungkinan truk-truk tersebut menunggu saat petugas lengah di kala tengah rehat di jam-jam tertentu seperti pada pukul 03.00 Wita saat Lombok Post memantau langsung kondisi di pos perbatasan Jenggik.

Slamet juga melihat kemungkinan adanya informan dari warga sipil yang ditugaskan melihat situasi di perbatasan pada jam-jam tertentu di dini hari. Lombok Post sendiri menemukan beberapa truk pengangkut pasir yang menepi di pinggir jalan sekitar tiga ratus meter sebelum pos perbatasan. “Bisa jadi seperti itu. Ini menjadi catatan kami,” katanya.

Pos perbatasan yang harus dijaga oleh Satpol PP Lotim selama sehari penuh memang masih jauh dari standar pos penjagaan 24 jam. Selain tidak ada ruangan khusus bagi para petugas untuk beristirahat, lampu penanda berhenti, dan lampu penerangan di pos penjagaan tersebut sama sekali tidak ada.

Sementara penjagaan ditugaskan pada Saptol PP Lotim selama 24 dengan sistem satu regu berjumlah 10 personel. “Dari pagi sampai pagi lagi,” kata Slamet.

Bapenda Bisa Kecolongan Ratusan Juta Per Bulan

Target realisasi pajak MBLB Bapenda Lotim tahun ini Rp 72,3 miliar lebih. Namun realisasi di triwulan kedua tahun ini baru mencapai Rp 6,4 miliar atau 8,9 persen.

Jika siasat melewati perbatasan pada dini hari dilakukan 50 truk per hari dengan muatan rata-rata lebih dari 10 kubik per rit, pajak yang hilang Rp 4,8 juta. Jika rata-rata dua kali rit, maka kerugiannya mencapai Rp 9,6 juta. Dikali satu bulan menjadi sebesar Rp 288 juta.

Jumlah Itu hitungan kasar untuk truk yang bersiasat di dini hari. Belum lagi kebocoran lainnya seperti yang sebelumnya disampaikan Kepala Bapenda Lotim Muksin tentang banyaknya truk yang memilih melewati jalur dari Kecamatan Montong Gading tembus Lombok Tengah. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Pajak #MBLB #Satpol PP Lotim