Suaidi yang menanam di atas lahan 18 are di kawasan Senang, Desa Ketangga, Kecamatan Suela, mengatakan hasil panennya tahun ini menurun sampai 75 persen. Dari yang normalnya ia mendapatkan hasil 3 sampai 3,5 bal tembakau per satu kali petik dari 18 are, kini ia hanya bisa mendapatkan satu bal saja. Satu bal tembakau berisi 20 tumpi.
Kendati demikian, kenaikan harga tetap menjadi angin segar baginya. Saat ini, harga pasaran tembakau kasturi jepun super per tumpi Rp 150 sampai Rp 300 ribu. Di harga normal, Suaidi bisa menjual Rp 100 ribu per tumpi. Jika menghitung satuan bal tembakau, harga tertinggi saat ini bisa mencapai Rp 2,8 sampai Rp 3 juta.
”Normalnya Rp 1 sampai 2 juta. Harga bervariasi tergantung kelas dan jenisnya,” jelasnya.
Penurunan hasil panen disebabkan curah hujan yang sempat tinggi dan merusak sebagian besar tanaman petani tembakau di wilayah selatan. Di Suela sendiri, rata-rata tanaman tembakau petani tidak sampai rusak, namun mengalami penurunan hasil yang signifikan.
”Kalau kualitas rasa alhamdulillah tidak berubah,” terang Suaidi.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Timur Mirza Sophian sebelumnya menerangkan tentang trennya meningkatnya harga tembakau rajangan di Lotim. Peningkatan harga di musim panen pertama tahun ini disebabkan banyaknya permintaan di tengah masih sedikit petani yang panen.
”Harganya dari petani mencapai Rp 500 per kwintal,” kata Mirza.
Harga tembakau rajangan yang cukup stabil menurut Mirza menyebabkan tren bertambahnya petani yang memilih menanam tembakau rajangan di Lotim. Berdasarkan data tahun 2022, luas lahan tanaman tembakau rajangan mencapai 10 ribu hektare. Hanya terpaut 2.000 hektare dari luas lahan tanaman tembakau virginia seluas 12 ribu hektare. (tih/r11)
Editor : Prihadi Zoldic