LombokPost-Kabupaten Sleman melakukan kunjungan ke Lombok Timur (Lotim), untuk melihat dan belajar bagaimana proses budidaya tanaman kopi di Lotim. Terutama untuk pascapanen pada kopi Sembalun.
”Pascapanen kopi nanti mereka akan langsung ke kelompok tani yang telah mengolah biji kopi,” terang kepala Dinas Pertanian Lotim Sahri usai menerima kunjungan Pemkab Sleman di Rupatama 1 Kantor Bupati, Rabu (13/9).
Dalam kunjungan itu, Pemkab Sleman mempelajari cara budidaya kopi. Mulai dari pembibitan, pemeliharaan kemudian tahap pengolahan sampai dengan kopi siap dikonsumsi. Kopi Sembalun dinilai memiliki rasa dan aroma khas sendiri, sehingga hal itu yang menjadikan Pemkab Sleman tertarik untuk melakukan kaji tiru di Lotim.
Disebutkan Sahri, lahan tanaman kopi di Lotim tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Indonesia. Akan tetapi Kopi Sembalun memiliki khas dan rasa tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain. Hal inilah yang menyebabkan kopi Sembalun banyak diminati para pecinta kopi di Indonesia.
”Maka mereka tidak bisa hanya melihat lihat satu proses saja, mereka akan melihat mulai dari pembibitan sampai jadi kopi. Kopi kita di Lotim ini memiliki khas sendiri yang tidak dimiliki daerah lain, ini yang menjadi daya tarik kita,” imbuhnya.
Dari segi pasar, selain semakin banyaknya kedai kopi di Sembalun maupun di NTB, komoditas ini juga sudah bisa menembus pasar nasional bahkan pasar internasional. ”Nah yang paling penting mereka mau belajar itu adalah pemasaran. Karena pasar kita bukan hanya disajikan di kedai kopi saja tapi sudah berhasil menembus pasar di luar daerah,” katanya.
Selain Kabupaten Sleman, belakangan ini banyak kabupaten lain di Indonesia yang melakukan kunjungan di Lotim. Hal itu dikarenakan sumber daya alam (SDA) Lotim sangat bagus dan banyak. Seperti yang dilakukan Provinsi Aceh beberapa hari lalu juga melakukan kunjungan ke Lotim untuk melihat bagaimana budidaya tanaman tembakau.
”Besok Menteri Pertanian juga akan ke Lotim untuk panen cabai di wilayah Kelayu Jorong dan menanam cabai di Kerongkong,” pungkasnya. (cr-par/r11)
Editor : Akbar Sirinawa