LombokPost-SDN 2 Paokmotong, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur memperketat pengawasan terhadap murid.
Mereka juga melakukan sosialisasi untuk mengantisipasi adanya kasus perundungan di sekolah.
”Alhamdulillah sejauh ini belum ada kasus bullying yang terjadi di sini. Karena kami terus melakukan sosialisasi kepada murid-murid kami,” kata Kepala SDN 2 Paokmotong Hj Nurhayati.
Setiap kegiatan imtaq dan upacara bendera, hal yang selalu ditekankan kepada murid adalah menjauhi perundungan antar-murid.
Bahkan setiap guru diharapkan untuk menyampaikan dan mensosialisasikan terkait bahaya perundungan sebelum belajar.
Di halaman sekolah juga telah dipasang tulisan-tulisan imbauan untuk menjauhi perundungan, saling cela, dan beberapa hal terkait itu.
Lebih dari 20 kata-kata ditancapkan di setiap sudut halaman, sebagai pengingat bagi anak-anak untuk tidak melakukan tindakan yang mengarah kepada perundungan antar murid.
”Jadi misalnya anak-anak kalau bermainnya terlalu serius dan keras, mereka bisa lihat dan ingat sehingga tidak sampai kelahi atau saling mencela dan sebagainya,” imbuhnya.
Selain itu, di beberapa kesempatan pihaknya mengumpulkan wali murid untuk mengingatkan dan memperketat pengawasan kepada murid.
Agar ketika di rumah, perilaku anak bisa dikontrol dan tidak melakukan hal-hal yang mengarah kepada perundungan kepada teman bermainnya.
Sekolah juga melakukan pembatasan untuk penggunaan ponsel selama bersekolah.
”Intinya pengawasan anak-anak kita perketat baik di sekolah maupun di rumahnya. Alhamdulillah langkah-langkah yang kami lakukan ini sejauh ini telah berhasil,” sebut Nurhayati.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim Yulian Ugi Lusianto menyampaikan untuk mengantisipasi kasus perundungan di sekolah, secara rutin dilakukan sosialisasi kepada kepala sekolah maupun guru.
Sehingga diharapkan peran guru bisa lebih aktif, khususnya guru Bimbingan Konseling (BK) yang ada di sekolah.
”Kasus perundungan di sekolah sampai saat ini masih saja terjadi. Untuk itu kasus ini membutuhkan perhatian serius baik di SD maupun SMP. Belakangan ini sudah berapa kasus yang terjadi baik di SMP dan SMK,” katanya.
Ia meminta kepada semua guru agar memberikan edukasi terkait perundungan bagi para murid.
Dijelaskan, secara umum terdapat tiga hal yang menjadi sorotan dan harus dihindari di lingkungan sekolah untuk menghindari perundungan.
Disebutkan Ugi, khusus untuk kasus asusila ini Dikbud akan memberikan sanksi tegas apabila ada oknum guru yang terlibat.
Sementara untuk kasus perundungan sendiri pihaknya akan mencari solusi terbaik dengan mengedepankan cara kekeluargaan, mengingat usia para murid yang menjadi pelaku maupun korban masih anak-anak.
”Sebelumnya kami juga pernah mendapatkan laporan terkait kasus bullying ini. Ada murid yang saling tantang duel fisik . Tapi kasus ini sudah berhasil kami selesaikan. Kami berharap kasus-kasus seperti ini tidak terulang lagi,” pungkasnya. (cr-par/r11)
Editor : Marthadi