LombokPost-Ketersediaan air Bendungan Pandanduri yang tersisa 26 juta meter kubik diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan petani, sampai dengan musim tanam tiga (MT3) mendatang.
”Sekarang sudah masuk MT II dan ketersediaan air masih aman. InsyaAllah cukup sampai dengan MT3,” terang Koordinator Wilayah 1 Bendungan Pandanduri Pamungkas Karyadi, Selasa (7/5).
Jumlah lahan yang seharusnya diairi dari Pandanduri seluas 5 ribu hektare lebih. Akan tetapi yang terjadi di lapangan, lahan pertanian disuplai menjadi 9 ribu hektar.
Kata dia, jika melihat penggunaan air saat ini, sebenarnya belum bisa memenuhi kebutuhan air untuk 9 ribu hektare lahan pertanian. Karena itu, pihaknya menggunakan sistem shift, yang waktu pengairannya diatur masing-masing juru kunci.
”Dari 9 ribu hektare, ada 12 juru kunci yang mengaturnya dengan pola bergantian. Kalau tidak seperti itu maka tidak bisa mencukupi kebutuhan petani dengan hanya mengandalkan 2,5 liter per detik,” jelasnya.
Prosedur pembukaan air Pandanduri tidak bisa dilakukan serampangan. Harus melalui prosedur pengajuan oleh petani, melalui juru kunci, kemudian ke pengamat. Selanjutnya ke BWS dan diteruskan ke Korwil untuk membuka Pandanduri.
”Jadi tidak bisa kita asal-asalan buka dan menggunakan,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Lotim Darajata menyampaikan, tidak semua lahan pertanian di wilayah selatan bisa memanfaatkan air Pandanduri. Lahan pertanian yang tidak bisa memanfaatkan air Pandanduri biasanya memanfaatkan pompa air.
”Kemarin kita sudah usulkan pompa untuk membantu mencukupi kebutuhan air,” katanya.
Selain mengusulkan pompa air, Distan Lotim saat ini juga tengah melakukan program irigasi perpompaan untuk mendukung program perluasan areal tanam padi. Terutama di wilayah selatan yang belum bisa memanfaatkan air Pandanduri.
Perluasan areal tanam padi di Lotim ditargetkan mencapai 2.500 hektare. Program ini diharapkan bisa meningkatkan produksi padi dalam rangka antisipasi rawan pangan di Indonesia. (cr-par/r11)
Editor : Akbar Sirinawa