Inovasi Tingkatkan Sanitasi Lingkungan Pondok Pesantren Sangat Diperlukan
nur cahaya• Jumat, 13 September 2024 | 07:17 WIB
Penunjang sanitasi untuk lingkungan ponpes menunjang kesehatan santri ponpes.
LombokPost--Berkembangnya pondok pesantren (ponpes) di NTB memerlukan sentuhan inovasi agar bisa nyaman penghuninya. Salah satunya dilakukan Inovasi Filter Air dan jamu herbal anti diare untuk perbaikan sanitasi di lingkungan ponpes.
Tim pengabdian dari Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) dan STMIK Lombok, yang terdiri dari Pahriah dan Husnul Hatimah dari Universitas Pendidikan Mandalika, serta Muhammad Fauzi Zulkarnaen dari STMIK Lombok, melaksanakan program pelatihan inovatif untuk meningkatkan kualitas sanitasi di Pondok Pesantren Daru Muhyiddin NW Santong, Terara, Lombok Timur.
"Program ini melibatkan dua sesi pelatihan utama yaitu pertama, mengenai teknologi pengolahan air bersih menggunakan metode slow sand filter dan biomassa filter berbahan arang aktif dari tempurung kelapa. Kedua, tentang pembuatan jamu herbal sebagai alternatif pengobatan diare," kata salah satu tim Pahriah.
Pelatihan pertama berfokus pada teknologi slow sand filter dan biomassa filter Slow sand filter adalah metode yang menggunakan lapisan pasir untuk menyaring kontaminan dari air. Ini fektif dalam menghilangkan patogen dan partikel kotoran. Biomassa filter menggunakan arang aktif dari tempurung kelapa sebagai media penyaring, yang dapat mengadsorpsi kontaminan organik dan kimia dari air.
"Kedua metode ini dipilih karena efisiensinya dalam meningkatkan kualitas air serta keberlanjutannya dengan bahan lokal," imbuhnya.
Pelatihan kedua mengajarkan pembuatan jamu herbal untuk pengobatan diare. Jamu yang diajarkan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar pesantren. Seperti kunyit, jahe, dan daun jambu biji.
"Pelatihan ini bertujuan memberikan alternatif pengobatan alami dan terjangkau bagi santri, serta meningkatkan pengetahuan mereka mengenai manfaat bahan herbal," ujarnya.
Pelatihan dilakukan dalam dua sesi terpisah. Pada sesi pertama, seluruh santri dan pengurus ponpes diberikan penjelasan teori tentang pentingnya sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Dilanjutkan dengan demonstrasi langsung cara pembuatan dan penggunaan slow sand filter dan biomassa filter. Sesi kedua berfokus pada pelatihan pembuatan jamu herbal, di mana peserta belajar mengenai cara membuat jamu dari bahan alami yang ada di sekitar mereka.
Santri berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan, mulai dari persiapan bahan hingga implementasi teknologi dan pembuatan jamu. Setelah pelatihan, terdapat peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan kesadaran santri mengenai sanitasi, kesehatan lingkungan, serta pengobatan alami.
"Kualitas air di pondok pesantren menunjukkan tanda-tanda perbaikan dengan pengurangan kontaminan yang diukur melalui uji kualitas air sebelum dan sesudah penggunaan filter," jelasnya.
Sementara itu, pembuatan jamu herbal memberikan solusi potensial sebagai alternatif pengobatan diare di lingkungan pesantren.
Dengan adanya program ini, diharapkan Pondok Pesantren Daru Muhyiddin NW Santong, Terara, Lombok Timur dapat menjadi contoh bagi pesantren lainnya dalam upaya meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Program ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi santri tetapi juga berpotensi memberikan dampak positif pada komunitas sekitar pesantren. Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Universitas Pendidikan Mandalika dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Dengan demikian, upaya peningkatan kualitas sanitasi dan pencegahan diare di Pondok Pesantren Daru Muhyiddin NW tidak hanya berdampak pada kesehatan santri, tetapi juga mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-6 mengenai air bersih dan sanitasi.
"Kami berharap, dengan pelatihan ini, santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menerapkan dan menyebarluaskan praktik sanitasi yang baik dan pengobatan alami di lingkungan mereka masing-masing," kata dia. (nur)