LombokPost-Cuaca yang tidak menentu alias pancaroba saat ini mengakibatkan tanaman tomat petani di Lombok Timur (Lotim) banyak yang layu dan mati.
”Ini terjadi sejak beberapa hari lalu, setelah hujan dua hari berturut-turut itu. Awalnya layu kemudian mati, daunnya banyak yang kering buahnya busuk dan gugur,” terang Nurwahid, petani di Kecamatan Pringgasela, Senin (28/10).
Kata dia, tanaman tomat miliknya saat ini baru mulai berbuah.
Namun saat diguyur hujan beberapa hari lalu, mengakibatkan tomat layu kemudian mati.
Ia tidak mengetahui penyebab pasti tanaman tomat tersebut banyak yang mati.
Namun diperkirakan akibat cuaca yang tidak menentu yang terjadi saat ini.
”Kalau melihat kondisi cuaca saat ini, kayaknya tidak bisa panen sampai tujuh kali. Apalagi delapan kali. Ini saja baru tiga kali panen sudah banyak yang mati,” bebernya.
Pada musim tahun ini ia menanam tomat di lahan seluas 25 are.
Namun kondisi tanaman tomat tersebut saat ini sangat memprihatinkan. Di mana dalam 25 are tersebut hampir setengahnya sudah mati.
Petani lainnya, Fitriati mengaku tanaman tomat miliknya tiba-tiba layu dan mati.
Ia menduga selain faktor cuaca yang tidak menentu juga diduga akibat tanah yang tidak pernah dibajak ulang.
”Memang tidak hanya tomat saya saja yang banyak mati, petani-petani yang lain juga. Karena cuaca saat ini tiba-tiba hujan, tiba-tiba panas,” katanya.
Perawatan tanaman sudah rutin dilakukan mulai dari pemupukan hingga penyemprotan pestisida.
Namun itu belum dapat menyelamatkan tanamannya.
Ia juga menyayangkan banyaknya tanaman tomat yang mati. Padahal saat ini harga tomat mulai merangkak naik.
Harga tomat saat ini sudah di angka Rp 10 ribu per kilogram di tingkat petani.
Sementara di pasaran sudah mencapai Rp 12-13 ribu per kilogram. Adapun bulan lalu harganya anjlok di angka Rp 3 ribu per kilogram.
”Anjlok harganya saat itu banyak petani yang enggan memanen buah tomatnya. Karena lebih mahal ongkos buruh daripada harga tomat itu sendiri,” tutupnya. (par/r11)
Editor : Kimda Farida